Sempat Dekati Dasar 6.000, IHSG Himpun Tenaga di Akhir Perdagangan

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Selasa (6/8/2019). Meski tertekan, IHSG mampu mengikis sebagian koreksinya dan bertahan di atas level 6.100.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  16:26 WIB
Sempat Dekati Dasar 6.000, IHSG Himpun Tenaga di Akhir Perdagangan
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Selasa (6/8/2019). Meski tertekan, IHSG mampu mengikis sebagian koreksinya dan bertahan di atas level 6.100.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,91 persen atau 56,23 poin di level 6.119,47 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (5/8), IHSG berakhir anjlok 2,59 persen atau 164,48 poin di level 6.175,7, penurunan hari ketiga. Indeks mulai melanjutkan pelemahannya saat dibuka melorot 1,14 persen atau 70,61 poin di level 6.105,09 pagi tadi.

Padahal sebelum berakhir di atas level 6.100, pergerakan indeks sempat anjlok lebih dari 2 persen mendekati dasar level 6.000. Level penutupan yang dibukukan hari ini adalah yang terendah sejak 29 Mei.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di kisaran 6.022,6 - 6.157,76.

Enam dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin aneka industri (-2,26 persen) dan finansial (-1,90 persen). Tiga sektor lainnya menetap di zona hijau, dipimpin sektor tambang yang naik 0,52 persen.

Dari 652 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 121 saham menguat, 307 saham melemah, dan 224 saham stagnan.

Dua saham emiten bank yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 3,98 persen dan 2 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

“Valuasi ekuitas Indonesia mulai terlihat menarik setelah penurunan baru-baru ini pada IHSG,” ujar Jeffrosenberg Tan, kepala strategi investasi di Sinarmas Sekuritas, seperti dilansir dari Bloomberg.

Ia memperkirakan akan terjadi penurunan lebih lanjut kerugian di pasar secara keseluruhan, tetapi merekomendasikan klien untuk membeli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI).

Indeks saham lainnya di Asia mayoritas ikut berakhir melemah, di antaranya indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang yang masing-masing turun 0,44 persen dan 0,65 persen. Adapun indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,51 persen.

Di China, dua indeks saham acuannya yakni Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing melorot 1,56 persen dan 1,07 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong ditutup melemah 0,67 persen .

Aksi jual yang melanda pasar modal global mereda setelah China menetapkan kurs mata uangnya lebih kuat dari level 7 per dolar.

Pada perdagangan Senin (5/8), nilai tukar yuan ambrol hingga menembus level kunci ini terhadap dolar AS dan seketika memicu kemerosotan besar-besaran dalam pasar keuangan dunia. Indeks S&P 500 di Amerika Serikat (AS) sampai-sampai berakhir terjerembab 3 persen.

Sebagian investor melihat aksi tersebut sebagai pembalasan atas rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap sisa impor China oleh pemerintah AS mulai 1 September. Presiden AS Donald Trump sontak meresponsnya dengan keras dan menyebut China sebagai manipulator mata uang.

Pada Selasa (6/8) pemerintah China kemudian menetapkan tingkat referensi yuan yang lebih kuat dari perkiraan analis. Bank Sentral China menyatakan menjual uang kertas berdenominasi yuan di Hong Kong.

PBOC juga menetapkan tingkat referensi harian pada 6,9683 per dolar, lebih kuat dari perkiraan level 6.9871 dalam survei Bloomberg terhadap 19 pelaku pasar dan analis.

Langkah China untuk menstabilkan yuan menawarkan sedikit kelegaan, meskipun terlambat menghindari pelabelannya sebagai "manipulator". Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pun menyatakan bahwa pemerintah AS telah menentukan China memanipulasi mata uangnya.

Dalam sebuah pernyataan, Departemen Keuangan AS mengatakan Menteri Keuangan Steven Mnuchin akan berhubungan dengan Dana Moneter Internasional untuk menghilangkan keunggulan kompetitif tidak adil yang diciptakan oleh tindakan terbaru China.

“Persoalannya adalah mereka [China] telah menunjukkan bahwa mereka tak segan bermain-main dengan level 7 itu,” ujar Andrew Sullivan, Direktur Pearl Bridge Partners kepada Bloomberg TV.

“Pasar benar-benar tidak memiliki pegangan yang kuat pada seberapa jauh nilai tukar mata uang itu [yuan] bisa bergerak [melemah].”

Sementara itu, Kepala Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan investor dalam pasar saham Indonesia sedang mengambil sikap wait and see ketika pelemahan di seluruh pasar Asia berlanjut.

“Samuel Asset Management tetap fokus pada saham-saham defensif. Kami lebih memilih saham-saham yang kurang berisiko,” tutur Lana.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah lanjut berakhir melemah 22 poin atau 0,15 persen di level Rp14.277 per dolar AS, pelemahan hari keempat berturut-turut.

Analis Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro dan Dwiwulan menyatakan depresiasi mata uang yuan adalah upaya Negeri Panda bertahan dari rencana tarif baru yang ditetapkan Trump.

Implikasinya, Bank Indonesia terdorong untuk melakukan intervensi pada pasar uang dan obligasi.

“Namun, depresiasi yuan nantinya akan menekan The Fed untuk menurunkan indeks dolar sehingga bisa mengangkat mata uang Asia lainnya,” papar Satria.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BBRI

-3,98

BBCA

-2,00

BMRI

-2,36

ASII

-2,53

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

TLKM

+1,23

UNVR

+1,14

MEGA

+9,80

ANTM

+9,30

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top