Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang Dagang AS vs China Ancam Pertumbuhan, Harga Minyak Meluncur

Harga minyak mentah dunia terpeleset ke zona merah dan merosot pada perdagangan siang ini, Senin (5/8/2019), di tengah kekhawatiran soal pertumbuhan ekonomi global setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  14:19 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia terpeleset ke zona merah dan merosot pada perdagangan siang ini, Senin (5/8/2019), di tengah kekhawatiran soal pertumbuhan ekonomi global setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif lebih lanjut terhadap impor China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2019 merosot 1,24 persen atau 0,69 poin ke level US$54,97 per barel pada pukul 13.42 WIB.

Pada perdagangan Jumat (2/8/2019), minyak WTI mampu melonjak 3,17 persen atau 1,71 poin dan berakhir di posisi 55,66.

Adapun harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2019 meluncur 0,85 poin atau 1,37 persen ke level US$61,04 per barel siang ini, setelah mampu melonjak 2,3 persen dan ditutup di posisi 61,89 pada Jumat (2/8).

Dilansir dari Reuters, bursa saham di Asia turun ke level terendahnya dalam enam bulan pada Senin (5/8/2019). Sebaliknya, harga emas naik setelah investor memburu aset-aset safe haven karena meningkatnya perselisihan perdagangan antara China dan Amerika Serikat.

“Minyak mentah mengalami tekanan signifikan karena daya tarik aset berisiko global tetap lesu akibat pertumbuhan global yang lemah dan eskalasi tiba-tiba dalam konflik perdagangan China-AS,”jelas Benjamin Lu, analis komoditas di broker Phillip Futures.

Pekan lalu, Trump mengatakan akan mengenakan tarif 10 persen pada sisa impor China senilai US$300 miliar mulai 1 September. Trump bahkan mengatakan dapat menaikkan tarif lebih lanjut jika Presiden China Xi Jinping gagal bergerak lebih cepat menuju kesepakatan perdagangan.

Di sisi lain, China menegaskan tidak gentar dan akan melakukan tindak balasan jika pemerintah AS menetapkan lebih banyak tarif untuk barang-barang asal China.

Kemudian pada Senin (5/8/2019), mata uang yuan China jatuh melampaui level 7 yuan per dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2008 di tengah spekulasi bahwa pemerintah tidak menahan depresiasi lebih lanjut untuk melawan ancaman tarif terbaru Presiden Donald Trump.

Nilai tukar yuan anjlok terhadap dolar AS setelah Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBoC) menetapkan nilai referensi harian lebih rendah dari 6,9 untuk pertama kalinya sejak Desember.

Nilai tukar yuan yang lebih rendah diketahui akan meningkatkan biaya impor minyak China yang berdenominasi dolar. China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia.

Pada saat yang sama, tanda-tanda meningkatnya ekspor minyak dari Amerika Serikat juga menekan harga minyak pada hari ini. Ekspor minyak dari AS melonjak sebesar 260.000 barel per hari (bph) pada bulan Juni ke rekor bulanannya 3,16 juta barel per hari, menurut laporan Biro Sensus AS.

Perang perdagangan dan meningkatnya pasokan dapat mempercepat tren spekulan mengurangi posisi bullish mereka di pasar berjangka minyak.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak perang dagang AS vs China
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top