Kinerja TLKM Makin Solid Pascaregistrasi SIM

Direktur Keuangan Telkom, Harry M Zen mengatakan faktor registrasi kartu SIM (subscriber identity module) prabayar menjadi salah satu pemicu membaiknya kinerja perseroan.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  06:54 WIB
Kinerja TLKM Makin Solid Pascaregistrasi SIM
Para tamu undangan dan karyawan menyaksikan peluncuran Satelit Merah Putih di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, dari monitor yang ada di ruang gedung Telkom Landmark, di Jakarta, Selasa (7/8/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) mencatatkan kinerja solid dengan pertumbuhan pendapatan pada semester I/2019 sebesar 7,72 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu pascapenerapan kebijakan registrasi kartu SIM prabayar.

Direktur Keuangan Telkom, Harry M Zen mengatakan faktor registrasi kartu SIM (subscriber identity module) prabayar menjadi salah satu pemicu membaiknya kinerja perseroan. Pascapenerapan registrasi kartu SIM prabayar, harga data lebih rasional dan pertumbuhan penjualan justru berasal dari pertumbuhan organik karena kecenderungan pelanggan mengisi ulang pulsa dibandingkan dengan membeli kartu SIM baru.

Seperti diketahui, segmen seluler menyumbang sebesar 62,7 persen terhadap pendapatan konsolidasian atau sebesar Rp43,52 triliun. Angka tersebut tumbuh 6,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp41,02 triliun.

Segmen lainnya yang cukup besar yakni korporat dengan pendapatan Rp11,94 triliun menyumbang 17 persen terhadap pendapatan total. Angka ini turun tipis 3,04 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 yaitu Rp12,31 triliun.

“Penjualannya lebih banyak ke vocer pulsa dan itu lebih sehat untuk industri ini. Biaya untuk memproduksi dan distribusi SIM card akhirnya memengaruhi kesehatan operator,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (31/7/2019).

Di sisi lain, dia menyebut segmen di luar seluler terus tumbuh mendukung kinerja perseroan semakin solid. Sebagai contoh, dia menyebut pendapatan lini usaha internet kabel melalui Indihome yang tumbuh 61,5 persen menjadi Rp8,8 triliun. Menurutnya, kebutuhan digitalisasi untuk pelanggan lainnya seperti korporat pun terus tumbuh sehingga secara perlahan mendekati segmen seluler yang masih dominan.

“Dominasinya bukan turun karena shrinking tapi yang lain tumbuh. Fixed broadband revenue-nya tumbuh 61,5 persen,” katanya.

Perbaikan harga pun mengakibatkan perbaikan laba pada semester I/2019 yakni Rp11,08 triliun atau naik 27,36 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dengan Rp8,69 triliun.

Lebih lanjut, di semester II/2019, pihaknya terus menggenjot ketersediaan jaringan 4G. Dengan upaya tersebut, dia menargetkan ketersediaan jaringan 4G bakal menyentuh 95 persen dari posisi saat ini sebesar 90 persen. Kendati pendapatan bisnis legacy terus turun, dia menyebut belum akan menurunkan ketersediaan jaringan 2G namun terus mendorong penggunaan jaringan 4G.

“4G kami udah cover 90 persen daei populasi. Akhir tahun bisa 95 persen,” katanya.

Terkait potensi kenaikan harga data pada semester II/2019, dia enggan berkomentar lebih jauh karena hal itu dipengaruhi faktor supply dan demand di pasar. Adapun, dia memproyeksikan kinerja hingga akhir tahun akan melampaui capaian di tahun sebelumnya dengan pertumbuhan pendapatan di single digit yang diikuti dengan perbaikan dengan EBITDA dan net income margin.

Sebagai gambaran, pada 2018, perseroan meraup pendapatan Rp130,78 triliun atau tumbuh 1,97 persen dibandingkan tahun 2017. Lalu, dari sisi laba bersih perseroan memeroleh Rp18,03 triliun atau tumbuh 18,57 persen dibandingkan tahun 2017.

“Guidance enggak berubah. Untuk full year, kita ekpektasikan revenue growth bisa mid to high sigle digit, EBITDA dan net income margin lebih baik dari tahun lalu,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telkom, tlkm

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top