Minyak Mentah Rebound, Ini Sentimen Penggeraknya

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman September menguat 0,14 poin ke level US$56,02 per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak tersebut telah jatuh 4,2 persen pada Juli dan berada di jalur pelemahan bulanan kedua tahun ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Juli 2019  |  06:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat, rebound dari penurunan terburuk dalam sepekan pada perdagangan Kamis (26/7/2019).

Hal itu karena pelaku pasar fokus pada penurunan persediaan AS sementara Bank Sentral Eropa menyiapkan rencana penyelamatan untuk ekonominya.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman September menguat 0,14 poin ke level US$56,02 per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak tersebut jatuh 4,2 persen pada Juli dan berada di jalur pelemahan bulanan kedua tahun ini.

Sementara itu, patokan minyak mentah global Brent untuk kontrak September menguat 0,21 poin ke level US$63,39 di ICE Futures Europe Exchange.

Dilansir Bloomberg, investor tampaknya menilai kembali prospek dan melihat peluang pembelian. Sementara itu, European Central Bank (ECB) mengatakan akan mempertimbangkan opsi termasuk penurunan suku bunga dan pelonggaran kuantitatif baru setelah Presiden ECB Mario Draghi memperingatkan ekonomi bergerak semakin buruk.

"Minyak benar-benar terjebak di antara dua masalah terbesar di pasar saat ini - perang perdagangan dan geopolitik," kata Tamar Essner, Direktur Energi dan utilitas di Nasdaq Corporate Solutions, seperti dikutip Bloomberg.

"Ada begitu banyak risiko dua arah di pasar sehingga saya tidak berpikir ada orang yang benar-benar memiliki keyakinan pada minyak sekarang,” lanjutnya.

Minyak mentah telah jatuh 16 persen sejak akhir April karena gejolak ekonomi dan perselisihan perdagangan AS-China yang melampaui kesepakatan pengurangan produksi OPEC dan ketegangan di Timur Tengah.

Namun, persediaan minyak AS turun 10,8 juta barel pekan lalu ke level terendah sejak akhir Maret, sementara produksi turun paling banyak dalam hampir dua tahun, menurut data Energy Information Administration pada hari Rabu.

"Itu merupakan penurunan yang bagus untuk minyak mentah," kata Vikas Dwivedi, Ekonom Minyak dan gas global di Macquarie Capital USA Inc. "Saya pikir orang lebih fokus pada hal itu hari ini dan sedikit mengabaikan kekhawatiran pada sisi permintaan."

Dampak pada harga mungkin telah diimbangi oleh Iran yang menyatakan akan melakukan "upaya terbaik" untuk memungkinkan lewatnya kapal tanker secara aman di Teluk Persia.

“Meskipun ada kekhawatiran tentang permintaan, pasokan yang lebih ketat secara global, di tengah pemotongan OPEC, sanksi Iran dan masalah-masalah Venezuela, pada akhirnya mendukung pasar," kata Bart Melek, kepala analis komoditas di TD Securities.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak September 2019
TanggalHarga (US$)Perubahan

25/7/2019

56,02

+0,14 poin

24/7/2019

55,88

-0,89 poin

23/7/2019

56,77

+0,55 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak September 2019
TanggalHarga (US$)Perubahan

25/7/2019

63,39

+0,21 poin

24/7/2019

63,18

-0,65 poin

23/7/2019

63,83

+0,57 poin

 Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga minyak mentah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top