Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pilarmas Investindo Sekuritas : Pasar Obligasi Dibuka Bervariasi

Sentimen global dan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada pekan depan, akan memengaruhi pergerakan pasar obligasi pada Jumat (26/7/2019).
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 26 Juli 2019  |  08:52 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi pasar obligasi dibuka bervariasi pada perdagangan Jumat (26/7/2019).

Dalam riset hariannya, Jumat (26/7), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pergerakan pasar obligasi hari ini, cenderung tak pasti karena belum tentu menyentuh titik balik yang berpotensi mengerek naik harga. Pasalnya, meskipun telah mencapai titik support, masih ada dua kemungkinan yakni harga obligasi terus turun menyentuh titik support berikutnya atau berbalik naik.

"Pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan ruang gerak sebesar 35-70 bps, baik naik maupun turun," ujarnya.

Terdapat beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar hari ini. Pertama, kedatangan dua seri Surat Utang Negara (SUN) pada lelang yang diselenggarakan pemerintah pada akhir bulan ini. Dua seri baru yang ditawarkan ini, masing-masing bertenor 5 tahun dan 10 tahun, diperkirakan bakal menarik minat pelaku pasar meskipun akan menawarkan kupon lebih kecil dibandingkan seri baru pada lelang sebelumnya.

Kedua, pernyataan Presiden European Central Bank (ECB) Mario Draghi tentang kebijakan moneter yang akan ditempuh pada September 2019. Memburuknya realisasi data di bidang manufaktur menjadi salah satu alasan perlunya kebijakan moneter baru guna memulihkan perekonomian.

Salah satu opsinya yakni pemangkasan suku bunga acuan pada September 2019, meskipun masih terdapat sinyal bahwa bank sentral Eropa mencari opsi-opsi lain yang bisa menjadi solusi.

Di sisi lain, pertemuan ECB mengawali rangkaian Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting di AS, sehingga pernyataan tersebut memperkuat sinyal pemangkasan suku bunga The Fed pada Juli 2019. Bank sentral Eropa diyakini akan meresponsnya pada September 2019, setelah Presiden ECB yang baru naik.

Ketiga, peluncuran rudal jarak pendek oleh Korea Utara (Korut) meningkatkan kekhawatiran perbaikan hubungan AS-Korut. Kendati demikian, pascapertemuan Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korut Kim Jong Un, tensi hubungan keduanya menurun. Rencananya, meskipun rudal telah dilepaskan, akan ada pertemuan kembali antara kedua negara.

Atas pertimbangan seluruh sentimen tersebut, Nico merekomendasikan agar pelaku usaha melakukan wait and see karena momentum lelang SUN pada Selasa (30/7).

"Kami merekomendasikan wait and see pada hari ini dan fokus terhadap lelang pada Selasa nanti," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top