Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ringkasan Perdagangan 24 Juli: IHSG & Rupiah Melemah, Emas Comex Naik

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut bersama nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ketiga berturut-turut.
Karyawan beraktivvitas di dekat papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Karyawan beraktivvitas di dekat papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut bersama nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ketiga berturut-turut.

Di sisi lain, kabar berlanjutnya kembali negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan China memberi secercah harapan untuk pasar saham global pada umumnya.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com hari ini, Rabu (24/7/2019):

IHSG Masih Lesu, Rupiah Tabah di Bawah 14.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari level 6.400. Menurut Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi, pergerakan IHSG secara teknikal masih diwarnai aksi jual.

Lima dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin infrastruktur (-1,49 persen) dan barang konsumsi (-0,52 persen). Empat sektor lainnya mampu menguat, dipimpin perdagangan yang naik 0,54 persen.

Dari 652 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 185 saham menguat, 217 saham melemah, dan 250 saham stagnan.

Saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) yang masing-masing turun 1,41 persen dan 13,04 persen menjadi penekan utama pergerakan IHSG.

Rupiah Ditutup Melemah Lagi

Nilai tukar rupiah lanjut berakhir melemah 12 poin atau 0,09 persen di level Rp13.997 per dolar AS, pelemahan hari ketiga, di tengah penguatan dolar AS.

Ketika rupiah mengakhiri pergerakannya hari ini, indeks dolar AS terpantau menguat 0,037 poin atau 0,04 persen ke posisi 97,742.

“Setelah rally tajam, profit taking dalam aset-aset Rupiah tidak terhindarkan. Selain itu, ada perhatian terhadap penguatan dolar AS dan kenaikan moderat dalam imbal hasil AS,” jelas Eugene Leow, pakar strategi valas di DBS, Singapura, dikutip dari Bloomberg.

Investor Hati-hati, Pasar Saham Global Fluktuatif

Bursa saham global bergerak fluktuatif saat investor mencermati serangkaian laporan kinerja perusahaan, dimulainya kembali perundingan perdagangan AS-China, dan prospek pelonggaran kebijakan oleh bank sentral.

Di Asia, bursa saham tampak beragam, dengan indeks saham di Tokyo, Sydney, Shanghai dan Hong Kong menguat, sedangkan indeks saham di Seoul dan Mumbai melemah.

Laporan laba yang pada umumnya positif telah mendukung kinerja bursa saham global pekan ini. Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dikabarkan akan bertolak ke China pekan depan untuk mengadakan negosiasi perdagangan tingkat tinggi pertama sejak pembicaraan kedua negara berakhir buntu pada bulan Mei.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Agustus 2019 terpantau menguat 5,30 poin atau 0,37 persen ke level US$1.427 per troy ounce pukul 18.43 WIB, saat indeks dolar AS tergelincir ke zona merah dan terkoreksi.

Indeks dolar AS yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama turun tipis 0,08 persen atau 0,081 poin ke posisi 97,624.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta turun sebesar Rp2.000 menjadi Rp703.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam ikut turun Rp2.000 menjadi Rp632.000 per gram.

Prospek Permintaan Suram, Harga Karet Kembali Melar 

Harga karet di Tokyo dan Shanghai tak mampu melanjutkan penguatannya dan berakhir turun pada perdagangan hari ini.

Harga karet tertekan akibat kekhawatiran seputar prospek lesunya permintaan dari para produsen ban yang dipicu penurunan penjualan otomotif.

Menurut Bloomberg Intelligence, pengiriman pabrikan mobil yang berbasis di China dapat menurun sebanyak 5 persen pada paruh kedua, meleset dari ekspektasi industri, di tengah konflik perdagangan Amerika Serikat-China.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper