Pilarmas Investindo : Penurunan Harga Obligasi Diperkirakan Berlanjut

Pasar obligasi diproyeksi kembali melemah setelah bertahan di titik support.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  09:06 WIB
Pilarmas Investindo : Penurunan Harga Obligasi Diperkirakan Berlanjut
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Penurunan harga obligasi diperkirakan berlanjut pada perdagangan Rabu (24/7/2019).

Dalam riset hariannya, Rabu (24/7), Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pasar obligasi bakal kembali turun cukup dalam setelah bertahan di titik support

"Pagi ini, pasar obligasi diperkirakan dibuka kembali melemah dengan potensi melemah hingga mencapai titik support selanjutnya," ujarnya.  

Pada perdagangan sebelumnya, imbal hasil di beberapa negara ditutup bervariasi. Di AS, imbal hasil ditutup naik ke level 2,08 persen.

Sementara itu, imbal hasil di Brasil turun ke level 7,2 persen di Yunani turun hingga menyentuh 2,02 persen.

Adapun yield di pasar obligasi domestik ditutup naik dan berada di level 7,2 persen. Namun, imbal hasil obligasi Indonesia bertenor 10 tahun ditutup melemah menjadi 7,27 persen dan obligasi bertenor 20 tahun menyentuh 7,78 persen.

Nico mengungkapkan ada beberapa sentimen yang berpengaruh pada hari ini. Pertama, pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan sejumlah perusahaan teknologi AS. Pertemuan ini mendiskusikan hubungan bisnis dengan Huawei yang diperkirakan akan memperbaiki tensi hubungan perusahaan China itu dengan perusahaan-perusahaan AS.

Kedua, kelanjutan diskusi tentang pembelian produk pertanian AS oleh China. Hal ini berpeluang memberikan iklim kondusif dengan berjalannya agenda diskusi memperbaiki hubungan dengan Huawei. 

Selain terkait perang dagang, China pun membuka kesempatan investasi bagi investor asing di sektor keuangan, termasuk di lini broker dan asset management

Sentimen terakhir datang dari naiknya Boris Johnson sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris. Naiknya Johnson meningkatkan peluang penyelesaian Brexit. Dalam pernyataannya, dia menargetkan untuk merealisasikan Brexit pada Oktober 2019.

Atas beberapa sentimen tersebut, Nico menyarankan investor untuk melakukan aksi jual pada perdagangan hari ini.

"Kami merekomendasikan jual hari ini," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top