Analis: Auto Reject Atas Dapat Terjadi Karena IPO Strategis

Salah satu penyebab banyaknya emiten baru yang terkena auto reject atas dikarenakan kebanyakan IPO selama 2 tahun terakhir merupakan IPO strategis.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  10:45 WIB
Analis: Auto Reject Atas Dapat Terjadi Karena IPO Strategis
Pengunjung mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (13/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Lonjakan harga saham saat perdagangan perdana hingga ke batas auto reject atas dinilai analis karena penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) tersebut kebanyakan bersifat strategis.

Thendra Crisnanda, Head of Research Institusi MNC Sekuritas menjelaskan, salah satu penyebab banyaknya emiten baru yang terkena auto reject atas dikarenakan kebanyakan IPO selama 2 tahun terakhir merupakan IPO strategis.

Biasanya, dalam IPO strategis, saham yang ditawarkan ke publik berjumlah sedikit sedangkan permintaan investor relatif tinggi.

“Oleh karena itu, wajar terjadi apresiasi harga saat listing IPO,” kata Thendra kepada Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Thendra melanjutkan, strategi stabilisasi harga yang secara umum dilakukan oleh perusahaan yang melakukan IPO strategis juga bisa membuat harga sahamnya cenderung meroket.

Lalu, pengalokasian saham IPO kepada investor ritel dan institusi dengan komposisi yang tepat pun juga diniai menjadi salah satu patokan kesuksesan suatu IPO.

Kendati sebagian besar saham pendatang baru di BEI terkena auto reject atas karena langsung melejit ketika perdagangannya dibuka, tidak semua saham tersebut dinilai memiliki prospek yang baik untuk ke depannya.

“Harus dianalisa lebih lanjut terkait realisasi kinerja perusahaan pasca-IPO,” imbuh Thendra.

Dirinya pun menyarankan supaya investor tidak ikut-ikutan dalam membeli saham IPO dengan harapan adanya potensi terkena auto reject atas.

Dalam memutuskan investasi, investor patut mencermati prospek bisnis si emiten, catatan keuangan perseroan, serta track record dari penjamin emisi dan penasihat keuangan yang biasanya juga akan mencerminkan strategi stabilisasi saat IPO.

Menurut Thendra, saham IPO saat ini cenderung hanya akan naik sementara pada hari pertama. Namun demikian, tetap tidak tertutup kemungkinan bahwa beberapa saham IPO yang alokasi untuk ritelnya sangat kecil sekali masih berpotensi untuk melanjutkan penguatan pasca-listing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, ipo

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top