Jerome Powell Bikin Emas Makin Bullish

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (11/7/2019) hingga pukul 17.28 WIB, harga emas berjangka kontrak Agustus 2019 di bursa Comex bergerak menguat 0,79% menjadi US$1.423,7 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  18:07 WIB
Jerome Powell Bikin Emas Makin Bullish
Emas Comex. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pidato bernada dovish oleh Ketua Federal Reserves Jerome Powell pada Rabu (10/7) malam seketika memperkuat momentum emas untuk bullish sepanjang tahun ini. Logam mulia tersebut bersiap untuk menjadi aset dengan keuntungan terbanyak dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (11/7/2019) hingga pukul 17.28 WIB, harga emas berjangka kontrak Agustus 2019 di bursa Comex bergerak menguat 0,79% menjadi US$1.423,7 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,18% menjadi US$1.421 per troy ounce. Sepanjang tahun berjalan, emas telah bergerak menguat 10,84%.

Notulen FOMC yang dirilis Rabu (10/7/2019) tersebut menunjukkan mayoritas pejabat The Fed yang memandang perlunya melancarkan lebih banyak stimulus dalam waktu segera akibat risiko perlambatan ekonomi AS.

Sementara itu, dalam testimoninya di Washington pada Rabu (10/7/2019), Powell menegaskan kesiapan The Fed untuk bertindak sebagaimana mestinya guna mendukung pertumbuhan ekonomi AS.

Powell mengatakan, prospek ekonomi AS tengah dibayangi oleh proyeksi pelemahan global yang terdampak dari konflik perdagangan pemerintahan Presiden Donald Trump dengan China dan negara lainnya.

Kekhawatiran yang diuraikan oleh Powell tersebut membantu menghidupkan kembali reli emas yang sempat terkoreksi akibat laporan gaji AS yang lebih baik daripada perkiraan pasar sehingga melemahkan harapan pelonggaran kebijakan oleh The Fed.

Adapun, sejak akhir Mei 2019 emas telah bergerak bullish dengan menguat 11,13% dan sempat menyentuh level tertingginya dalam 6 tahun terakhir di US$1.423,44 per troy ounce.

Tanggapan Powell tersebut dipandang mayoritas investor sebagai tanda adanya pemangkasan suku bunga acuan AS pada akhir bulan ini.

Analis Senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan bahwa ekonomi AS memang terlihat cukup baik, tetapi kekhawatiran lain menunjukkan kepada pasar bahwa The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga lebih cepat.

"Sentimen tersebut sangat bullish untuk pasar emas," ujar Jim seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (11/7/2019).

Jim memprediksi jika emas dapat bergerak menembus level US$1.442,9 per troy ounce, emas akan mendapatkan dorongan tambahan sehinga memungkinkan logam mulia tersebut menyentuh US$1.500 per troy ounce hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.

Berdasarkan FedWatch tool oleh CME Group, ekspektasi untuk penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin, melonjak menjadi 26,6%. Adapun, suku bunga AS yang rendah akan membantu emas dan komoditas lainnya lebih kompetitif terhadap aset yang menawarkan bunga.

MENUJU US$1.600

Market Strategyst PT Monex Investindo Futures Radityo Setyo Wibowo mengatakan bahwa emas akan menjadi komoditas yang yang paling diuntungkan oleh proyeksi pemangkasan suku bunga AS yang ditegaskan oleh Ketua The Fed Jerome Powell di House Financial Services Committee.

"Kenaikan emas saat ini terbuka menuju US$1.435 per troy ounce, tetapi ketika akhirnya suku bunga sudah terealisasi dan bukan hanya sebuah wacana, outlook jangka panjang emas bisa sampai US$1.460 per troy ounce, atau bisa bergerak di atas US$1.500 per troy ounce," ujar Radityo kepada Bisnis.com, Kamis (11/7/2019).

Bahkan, hingga akhir tahun ini emas diproyeksi dapat menyentuh level US$1.600 per troy ounce jika The Fed memangkas suku bunga acuannya sebanyak dua kali pada tahun ini.

Radityo menilai bahwa isi notulen FOMC periode Juni dan komentar Jerome Powell yang mengkhawatirkan risiko terhadap ekonomi AS akibat konflik perdagangan, dapat mengindikasikan Bank Sentral AS tersebut untuk memangkas suku bunganya sebanyak dua kali pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, logam mulia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top