Pekan Depan Rupiah Berpotensi Uji Level Psikologis Rp14.000

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinpin pada sela-sela KTT G20 di Jepang akhir pekan lalu akan menjadi penggerak utama pasar pada pekan depan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Juni 2019  |  12:59 WIB
Pekan Depan Rupiah Berpotensi Uji Level Psikologis Rp14.000
Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang Garuda berpotensi untuk membuka awal pekan ini dengan bergerak menguat dan menguji level psikologis yaitu bergerak di bawah Rp14.000 per dolar AS seiring dengan AS dan China untuk membuka lembaran baru dan memulai negosiasi perdagangan kembali yang sempat terhenti sejak awal Mei lalu.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinpin pada sela-sela KTT G20 di Jepang akhir pekan lalu akan menjadi penggerak utama pasar pada pekan depan.

Hasil kesepakatan yang menunjukkan perkembangan hubungan yang baik bagi kedua negara tersebut akan menjadi katalis positif bagi pergerakan rupiah, seiring dengan potensi meningkatnya minat investor terhadap investasi aset berisiko.

“[Pergerakan rupiah] bisa ke Rp14.000 per dolar AS bahan bisa menembuh ke bawah level tersebut, apalagi mengingat terdapat sentimen pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat,” ujar Ariston kepada Bisnis, Minggu (30/6/2019).

Sebagai informasi, pada Sabtu (29/6/2019) Trump bertemu dengan Xi Jinping dan sepakat untuk memulai kembali negosiasi perdagangan agar tercapainya kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan yang telah berlangsung sejak tahun lalu.

Trump menyebutkan pertemuan Xi Jinpin merupakan pertemuan berisiko tinggi dan mengatakan bahwa pertemuan tersebut berjalan lebih baik daripada yang diharapkan.

Ariston mengatakan meski rupiah mendapatkan sentimen positif pasca Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk menolak gugatan pasangan calon presiden nomor urut 02 terkait dengan sengketa pemilu 2019 dan kondisi politik dalam negeri cenderung kondusif sehingga menarik minat investor, tetapi perhatian pasar lebih tertuju pada isu eksternal.

Selain itu, data indeks manufaktur Tiongkok juga bisa menjadi acuan penggerak nilai rupiah, di mana jika data dirilis di bawah ekspektasi pasar akan mendorong pelemahan rupiah.

Oleh karena itu, Ariston memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.250 per dolar AS pada perdagangan Senin (1/7/2019).

Senada, Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa semua mata uang asing berpotensi menguat melawan dolar AS pada pekan ini, termasuk rupiah.

“Karena ketika terdapat kesepakatan sehingga akan membuat dolar AS melemah dan rupiah akan melanjutkan penguatannya,” papar Suluh kepada Bisnis.

Adapun, berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (28/6/2019) rupiah berakhir di level Rp14.126 per dolar AS, menguat tipis 0,1% atau 14 poin terhadap dolar AS, saat saat indeks dolar AS 0,11% ke posisi 96,086.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top