Bursa Asia Melemah, IHSG Mantap Pertahankan Rebound pada Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,39 persen atau 24,73 poin ke level 6.313,19 pada akhir perdagangan sesi I hari ini dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  12:28 WIB
Bursa Asia Melemah, IHSG Mantap Pertahankan Rebound pada Sesi I
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (25/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,39 persen atau 24,73 poin ke level 6.313,19 pada akhir perdagangan sesi I hari ini dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

IHSG sebelumnya rebound dengan penguatan 0,38 persen atau 23,64 poin ke level 6.312,1. Adapun pada perdagangan Senin (24/6), IHSG ditutup melemah 0,43 persen atau 26,97 poin di level 6.288,46.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona hijau, dipimpin oleh sektor tambang dengan penguatan 2,21 persen, disusul sektor industri dasar yang menguat 1,06 persen.

Di sisi lain, sektor aneka industri yang melemah 0,55 persen dan properti yang turun 0,23 persen menahan penguatan IHSG pada akhir sesi I hari ini.

Sebanyak 204 saham menguat, 163 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 636 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing menguat 7 persen dan 1,01 persen menjadi penopang utama IHSG pada akhir sesi I berdasarkan kapitalisasi pasar.

IHSG menguat di saat indeks saham lainnya di Asia bergerak melemah, dengan indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,43 persen dan 0,68 persen pada pukul 11.47 WIB, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,31 persen.

Sementara itu di China, indeks Shanghai Composite melemah 1,82 persen dan CSI 300 menguat 2,1 persen. Adapun indeks FTSE Straits Time Singapura melemah 0,14 persen.

Dilansir Bloomberg, bursa saham Asia tertekan oleh kekhawatiran perdagangan pada Selasa karena ekspektasi pembicaraan yang lebih dovish dari Federal Reserve mendorong turun yield obligasi dan dolar AS.

Investor menunggu dengan cemas untuk melihat apakah ada sesuatu yang dihasilkan dari pembicaraan perdagangan China-AS akhir pekan ini, meskipun sentimen tidak terbantu oleh laporan-laporan Presiden AS Donald Trump yang akan puas dengan "hasil apa pun".

Trump dijadwalkan bertemu secara empat mata dengan setidaknya delapan pemimpin dunia pada KTT G20 di Osaka, termasuk Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tidak kurang dari lima pejabat The Fed akan berbicara pada hari Selasa, termasuk Gubernur Jerome Powell, dan pasar menganggap mereka akan tetap dengan pesan dovish baru-baru ini.

"Selalu mungkin bahwa Powell dapat memundurkan kembali interpretasi dovish pasar dari pertemuan FOMC minggu lalu ... tapi kami menduga dia akan memperkuat pesan yang disampaikan pekan lalu," kata Kevin Cummins, ekonom senior AS di NatWest Markets, seperti dikutip Reuters.

"Pada akhir Juli, kami percaya The Fed akan melihat cukup alasan untuk memutuskan bahwa perlu tindakan untuk melawan risiko penurunan ekonomi dan ekspektasi inflasi yang rendah, dan karenanya kami perkirakan penurunan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan FOMC berikutnya. "

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup