Emas Masih Bullish, Waspadai Aksi Profit Taking

Reli emas belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Walaupun demikian, beberapa analis memperingatkan adanya kecenderungan aksi ambil untung yang akan dilakukan oleh investor dalam waktu dekat sehingga menahan kenaikan emas.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  15:49 WIB
Emas Masih Bullish, Waspadai Aksi Profit Taking
Harga emas - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Reli emas belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Walaupun demikian, beberapa analis memperingatkan adanya kecenderungan aksi ambil untung yang akan dilakukan oleh investor dalam waktu dekat sehingga menahan kenaikan emas.

Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan bahwa di tengah ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sehingga mendorong emas melonjak ke level tertingginya, logam kuning tersebut masih dibayangi sentimen yang dapat membatasi kenaikannya.

"Kami berpikir bahwa harga emas global akan melunak minggu ini, mengingat estimasi penjualan rumah baru yang lebih tinggi untuk bulan Mei," ujar Andy seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (25/6/2019).

Pemerintah AS akan merilis data penjualan rumah baru untuk periode Mei yang diprediksi pasar akan tumbuh positif menjadi 686.000 dibandingkan dengan periode sebelumnya pada level 673.000.

Sementara itu, Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad mengatakan bahwa ketegangan yang semakin panas di Timur Tengah seiring dengan sanksi baru AS terhadap Iran terus menarik minat investor ke arah emas sebagai aset investasi aman seperti magnet.

"Akibatnya, harga emas berpotensi bergerak naik menguji level resisten di US$1.429 per troy ounce. Penembusan level resisten tersebut berpotensi menopang kenaikan harga emas menguji level resisten selanjutnya di US$1.434 per troy ounce dan US$1.440 per troy ounce," ujar Ahmad seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (25/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (25/6/2019) hingga pukul 15.32 WIB, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,77% menjadi US$1.430,66 per troy ounce, level tertingginya dalam 6 tahun terakhir.

Sementara itu, harga emas di bursa Comex menguat 1,28% menjadi US$1.436,30 per troy ounce. Sepanjang tahun berjalan, harga telah naik 11,14%.

Pun, perusahaan keuangan Morgan Stanley mengatakan bahwa emas telah menjadi pilihan komoditas utamanya untuk 6 bulan ke depan karena ketidakpastian prospek ekonomi makro sehingga mengurangi daya tarik aset berisiko.

Tidak hanya The Fed, sejumlah bank sentral lainnya termasuk Bank Sentral Eropa juga menjadi lebih dovish dan mengisyaratkan untuk memberikan stimulus sebagai upaya menjaga pertumbuhan ekonominya.

Investor menanti hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G20 akhir pekan ini untuk membahas sengketa perdagangan 2 negara tersebut.

Walaupun demikian, pejabat AS meremehkan adanya harapan perkembangan yang positif dari hasil pertemuan tersebut. Pihaknya bersikeras AS belum siap untuk berkompromi pada tuntutan reformasi ekonomi Tiongkok yang bermakna.

Managing Partner Vanguard Markets Stephen Innes mengatakan bahwa sejumlah sentimen yang menebar ketidakpastian di pasar tersebut akan mendorong harga tetap bergerak naik untuk sementara waktu.

"Suasana pasar modal global yang goyah karena ketidakpastian inilah yang akan terus menyediakan bahan bakar jet untuk pasar emas yang sudah diperdagangkan cukup tinggi," ujar Stephen seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/6/2019).

Citigroup Inc. memperkirakan harga emas akan mencapai US$1.500 per troy ounce hingga US$1.600 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan, sedangkan Direktur Divisi Macquarie Wealth Management Martin Lakos memperkirakan emas berada di level US$1.450 hingga paruh pertama tahun depan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, Harga Emas Hari Ini

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup