Optimisme Kesepakatan Dagang dan Pernyataan ECB Pertahankan Harga Minyak di Zona Hijau

Harga minyak global melanjutkan kenaikan ke sesi kedua pada Rabu (19/6/2019), ditopang oleh ekspektasi optimisme kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan China, serta potensi stimulus ekonomi dari Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 19 Juni 2019  |  16:02 WIB
Optimisme Kesepakatan Dagang dan Pernyataan ECB Pertahankan Harga Minyak di Zona Hijau
Sebuah pemandangan menunjukkan fasilitas minyak Abqaiq Saudi Aramco di Arab Saudi timur - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak global melanjutkan kenaikan ke sesi kedua pada Rabu (19/6/2019), ditopang oleh ekspektasi optimisme kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan China, serta potensi stimulus ekonomi dari Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

Ketegangan di Timur Tengah, setelah serangan kapal tanker pekan lalu juga mendorong harga minyak menghijau pada hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 15.13 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate menguat 0,30% atau 0,16 poin ke level US$54,05 per barel, sedangkan harga  minyak Brent menguat 0,26% atau 0,16 poin ke level US$62,30 per barel.

Dalam sebuah unggahan di Twitter, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa persiapan dimulai untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di KTT G20 di Osaka, Jepang, pekan depan.

Hal itu terjadi setelah pembicaraan untuk mencapai kesepakatan tentang perdagangan AS dan China terhambat bulan lalu, usai Washington menuduh China mundur dari komitmen yang telah disepakati sebelumnya.

Sejak saat itu, interaksi kedua negara itu terbatas. Trump telah mengancam, berkuangkali untuk menjatuhkan tarif lebih banyak pada produk-produk China.

Sementara itu, Presiden ECB Mario Draghi, Rabu (19/6/2019), mengatakan, bahwa bank setral akan memangkas tingkat suku bunga jika tingkat inflasi gagal mengakselerasi target.

“Sepertinya pasar sedikit terpana oleh perubahan besar dalam sentimen [pada prospek harga],” kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets di Sydney dikutip dari Reuters, Rabu (19/6/2019).

McCarthy menduga pergerakan harga minyak terpengaruh oleh pernyataan ECB, yang jauh lebih penting dalam mendukung perekonomian global. Namun, data yang menunjukkan bahwa ekspor Jepang turun selama enam bulan berturut-turut di bulan Mei menyeret pasar.

Ketegangan di Timteng masih berlanjut, setelah serangan tanker pekan lalu masih tinggi, dengan Trump mengatakan, siap untuk mengambil tindakan militer menghentikan Iran yang memiliki bom nuklir.

Kecemasan konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat telah meningkat sejak serangan Kamis lalu, yang dituduh oleh Washington didalangi oleh Teheran. Sementara itu, Iran membantah terlibat.

AS sedang mengerahkan sekitar 1.000 tentara lagi ke Timur Tengah untuk mengantisipasi ancaman dari Negeri Para Mullah tersebut.

Pelaku pasar juga menanti pertemuan antara Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +, terkait nasib kesepakatan pemangkasan produksi minyak global.

Menurut laman resmi OPEC dikutip dari Reuters, kelompok itu telah setuju untuk menggeser pertemuan berikutnya ke 1 Juli, diikuti dengan pertemuan dengan sekutu non-OPEC pada 2 Juli.

OPEC dan sekutu awalnya berencana untuk bertemu pada 25-26 Juni, dan telah berdebat selama sebulan terakhir tentang tanggal baru untuk pertemuan yang akan membahas kebijakan produksi minyak. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top