Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emas Terkoreksi Setelah Sentuh Level Tertinggi 2019

Harga emas terkoreksi setelah mencapai level tertingginya untuk tahun ini akibat data penjualan ritel AS yang menguat sehingga membuat dolar AS bergerak naik.
Harga emas/Reuters
Harga emas/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas terkoreksi setelah mencapai level tertingginya untuk tahun ini akibat data penjualan ritel AS yang menguat sehingga membuat dolar AS bergerak naik.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (17/6/2019) pukul 14.14 WIB, harga emas di pasar spot melemah 0,3% menjadi US$1.337,73 per troy ounce, sedangkan harga emas di bursa Comex melemah 0,22% menjadi US$1.341,6 per troy ounce.

Analis PT Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi mengatakan bahwa data penjualan ritel AS yang dirilis akhir pekan lalu berhasil meredakan kekhawatiran pasar terkait dengan bahwa ekonomi AS akan melambat tajam pada kuartal kedua sehingga dapat memicu pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Penjualan ritel AS untuk periode berhasil bergerak stabil di level 0,5%, meskipun berada pada bawah level ekspetasi konsesus pasar sebesar 0,7%. Hal tersebut membuat dolar AS mampu menguat menjelang pertemuan The Fed pada pekan ini.

Meskipun pasar memproyeksikan The Fed akan memutuskan untuk memangkas suku bunga pada Rabu (19/6/2019), para trader justru bertaruh bahwa The Fed baru akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak melemah tipis 0,02% menjadi 97,552.

Oleh karena itu, katalis positif bagi pergerakan dolar AS tersebut telah membatasi penguatan harga emas setelah mencapai level tertingginya sejak April 2018 pada perdagangan Jumat (14/6/2019) di kisaran US$1.358,05 per troy ounce.

"Jika dolar AS masih mendapat momentum penguatannya, potensi pelemahan harga emas akan menguji support terdekat di US$1.336 per troy ounce selama harga bergerak di bawah US$1.344 per troy ounce," ujar Dini seperti dikutip dari publikasi risetnya, Senin (17/6/2019).

Sebaliknya, lanjut Dini, jika emas mampu menembus level US$1.344 per troy ounce, peluang penguatan harga emas selanjutnya mengincar level US$1.347 per troy ounce.

Di sisi lain, Kepala Strategi Pasar CMC Markets Michael McCharty mengatakan bahwa ketegangan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, yang belum menunjukan tanda akan segera berakhir menjadi faktor pendukung bagi pasar emas.

"Perselisihan perdagangan yang belum terselesaikan dan potensi meningkatnya ketegangan tersebut akan membantu menaikkan permintaan emas," ujar Michael seperti dikutip dari Reuters, Senin (17/6/2019).

Adapun, awal pekan ini Kantor Perwakilan Dagang AS akan memulai audiensi publik bersama dengan peritel, produsen, dan pebisnis AS terkait dengan rencana Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor produk China senilai US$300 miliar.

Audiensi publik tersebut akan digelar selama 7 hari hingga 25 Juni mendatang.Hal tersebut menjadi tanda bahwa Trump tidak akan dapat memicu gelombang tarif baru hingga periode audiensi tersebut berakhir.

Di antara logam mulia lainnya, perak bergerak melemah 0,24% menjadi US$14,84 per troy ounce, platinum bergerak turun 0,47% menjadi US$801,1 per troy ounce, dan paladium melemah 0,33% menjadi US$1.463,7 per troy ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper