Bukit Asam (PTBA) Tinjau Kembali & Optimasi Perencanaan Tambang

Produsen batu bara milik negara, PT Bukit Asam Tbk. tengah meninjau kembali dan optimasi perencanaan tambang di tengah tren harga batu bara yang masih lesu sampai dengan Juni 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  18:17 WIB
Bukit Asam (PTBA) Tinjau Kembali & Optimasi Perencanaan Tambang
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin (kiri) bersama Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Loeke Larasati memperlihatkan naskah kerja sama, di Jakarta, Rabu (7/5/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Produsen batu bara milik negara, PT Bukit Asam Tbk. tengah meninjau kembali dan optimasi perencanaan tambang di tengah tren harga batu bara yang masih lesu sampai dengan Juni 2019.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman menuturkan pihaknya tengah melakukan review atau meninjau kembali serta optimasi perencanaan tambang. Tujuannya, untuk mendapatkan operasional yang lebih efisien. “Sehingga rasio margin kami bisa tetap sesuai rencana,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (12/6/2019).

Kendati demikian, Suherman saat ini belum merinci strategi yang disiapkan oleh  anggota Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Industri Pertambangan tersebut.

Seperti diketahui, Bukit Asam mengantongi laba bersih Rp1,13 triliun pada kuartal I/2019. Posisi itu turun 21,63% dibandingkan Rp1,45 triliun pada akhir Maret 2018. 

Manajemen Bukit Asam memasang sejumlah target untuk periode 2019. Dari sisi produksi, perseroan membidik 27,26 juta ton sepanjang 2019 atau tumbuh 3% secara tahunan.

Dari sisi penjualan, emiten berkode saham PTBA itu mengincar volume 28,38 juta ton atau tumbuh 15% secara tahunan. Rinciannya, penjualan batu bara domestik 13,67 juta ton dan penjualan ekspor 14,71 juta ton.

Adapun, target penjualan tersebut ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batu bara medium to high calorie ke pasar premium sebesar 3 juta ton.

Sementara itu, perseroan menganggarkan investasi Rp6,47 triliun. Jumlah itu akan digunakan Rp1,13 triliun untuk investasi rutin dan sisanya Rp5,35 triliun untuk investasi pengembangan.

Dilansir melalui laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batu bara acuan (HBA) menyentuh level US$81,48 pada Juni 2019. Posisi itu lebih rendah dari Mei 2019 di level US$81,86.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, posisi pada Mei 2019 menjadi yang terendah sejak Agustus 2017.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bukit asam, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top