Rusia Masih Ragu Pangkas Produksi, Harga Minyak Dunia Stabil

Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Senin (10/6/2019), karena produsen utama Arab Saudi dan Rusia belum sepakat memperpanjang kesepakatan pengurangan produksi.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 11 Juni 2019  |  04:11 WIB
Rusia Masih Ragu Pangkas Produksi, Harga Minyak Dunia Stabil
Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Senin (10/6/2019), karena produsen utama Arab Saudi dan Rusia belum sepakat memperpanjang kesepakatan pengurangan produksi.

Selain itu harga juga dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan AS dan Cina yang terus mengancam permintaan minyak mentah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent berada pada level US$63,29 per barel pada 17:30 WIB, tidak berubah dari penutupan Jumat. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$54,26 per barel, naik 27 poin atau 0,5%.

Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih, Senin (10/6) mengatakan, bahwa Rusia adalah satu-satunya pengekspor minyak yang masih ragu terkait perlunya memperpanjang kesepakatan produksi, hasil kesepakatan para produsen top minyak dunia.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC+) dan beberapa non-anggota, termasuk Rusia, telah menahan pasokan sejak awal tahun untuk menopang harga.

Moskow sedang mempertimbangkan apakah pengurangan lebih lanjut dapat memungkinkan Amerika Serikat untuk mengambil pangsa pasar Rusia, dan mereka belum memberi sinyal apakah akan terus mengekang pasokannya.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan, dia tidak dapat mengesampingkan penurunan harga minyak menjadi US$ 30 per barel jika kesepakatan global tidak diperpanjang, karena ada risiko besar kelebihan pasokan.

Analis juga memperingatkan risiko terhadap ekonomi global dari perang dagang Amerika Serikat dengan China.

Harry Tchilinguirian, ahli strategi minyak global di BNP Paribas mengatakan kepada Reuters Global Oil Forum bahwa Amerika Serikat dan China menyumbang sekitar tiga perempat dari pertumbuhan permintaan minyak global tahun lalu.

"Jika hubungan Sino-AS tidak membaik, harga spot minyak, dalam pandangan kami, akan tetap tertekan," katanya.

Sementara itu, impor minyak mentah China merosot 8% pada Mei tahun ini, akibat pengekangan pengiriman dari Iran usai negara itu mendapat pengetatan sanksi dari Amerika Serikat.

Data Administrasi Umum Kepabeanan China, Senin (10/6/201) memperlihatkan, impor minyak turun menjadi 40,23 juta ton pada Mei, dari 43,74 juta ton pada bulan sebelumnya.

Adapun perhitungan Reuters menunjukkan, jumlah tersebut setara dengan 9,47 juta barel per hari, turun 11% dari April. Pengurangan itu ditekan oleh impor yang lebih rendah dari Iran dan juga karena beberapa kilang besar ditutup terkait pemeliharaan berkala.

Dilansir dari Reuters, Seng Yick Tee, analis untuk konsultan SIA Energy yang berbasis di Beijing mengatakan, alasan utama penurunan impor minyak mentah China adalah pengiriman dari Iran yang turun tajam pada bulan lalu.

China mulai mengurangi impor minyak mentah Iran pada Mei, di tengah sanksi AS yang lebih keras terhadap penjualan minyak Negeri Para Mullah tersebut.

Sementara itu, ekspor produk minyak China juga melambat pada Mei, menjadi 4,49 juta ton, turun dari 6,17 juta ton pada bulan sebelumnya.

Dalam 5 bulan pertama tahun ini, ekspor produk minyak China mencapai 27,79 juta ton, naik dari 25,55 juta ton pada periode yang sama 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top