Sinyal Pelonggaran Moneter AS Bikin IHSG Kian Perkasa  

Sinyal The Federal Reserve menurunkan suku bunga berhasil mengalahkan sentimen negatif dari dalam negeri. Pasalnya, inflasi yang dicatatkan lebih tinggi dari ekspektasi.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  23:04 WIB
Sinyal Pelonggaran Moneter AS Bikin IHSG Kian Perkasa  
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA--Sinyal The Federal Reserve menurunkan suku bunga berhasil mengalahkan sentimen negatif dari dalam negeri. Pasalnya, inflasi yang dicatatkan lebih tinggi dari ekspektasi.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengungkapkan, rilis data inflasi Mei 2019 sebesar 0,68% berhasil diemilinasi oleh sentimen positif global. Sinyal dari The Fed untuk mengerek kinerja pasar modal cukup kuat.

"Sepanjang libur Lebaran, pasar modal global menguat dan bursa masih akan tetap melanjutkan penguatan tetap tidak terlalu besar," ungkapnya saat dihubungi, Senin (10/6/2019).

Selain sinyal The Fed, kinerja IHSG juga masih terkena dampak positif dari penaikan rating oleh lembaga pemeringkat S&P. Ditambah lagi, kondisi politif pascapilpres semakin kondusif.

Pada penutupan perdagangan Senin (10/6/2019), IHSG menguat 1,3% atau 80,49 poin menuju level 6.289,61. Adapun total net buy yang dibukukan oleh investor asing mencapai Rp480,83 miliar.

Alfred menambahkan, sinyal The Fed telah membawa investor asing kembali memburu saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps). Saat IHSG berada di bawah level 6.600 maka saham-saham big caps/ blue chips menjadi pilihan utama, karena masih murah.

Namun, bila IHSG telah menembus level 6.600 maka investor asing beralih dari big caps menuju second liner dan third liner. Menurutnya, bila IHSG kembali menembus level 6.600 maka big caps menjadi mahal.

Adapun saham-saham yang diburu oleh investor asing masih dominan pada sektor keuangan yakni BMRI, BBCA dan BBRI, masing-masing mencatatkan net buy senilai Rp272,46 miliar, Rp198,46 miliar dan Rp87,71 miliar.

Selain itu, Grup Astra juga menjadi pilihan investor yakni ASII dan UNTR masing-masing naik 3,02% dan 4,73%, menuju level Rp7675 per saham dan Rp26.550 per saham. Adapun net buy yang dibukukan dari ASII dan UNTR masing-masing senilai Rp102,72 miliar dan Rp84,24 miliar.

Dia menambahkan, sebanyak 79% konsensus memproyeksikan, bahwa The Fed bakal menurunkan suku bunga, di tengah perlambatan ekonomi AS.

Senada, pengamat pasar modal PT Samuel Sekuritas Indonesia Muhamad Alfatih menambahkan, bila The Fed merealisasikan penurunan suku bunga, maka ruang penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia potensi terjadi. "Yang pasti suku bunga turun, hal positif bagi emiten," ungkapnya.

Alfatih menambahkan, bila suku bunga The Fed turun, maka investor akan mencari tempat investasi yang lebih menguntungkan yakni saham. Tentunya, bila bunga dolar AS turun, maka instrumen diluar dolar akan lebih menarik.

Pada perdagangan Selasa (11/6/2019), Alfatih memproyeksikan IHSG bakal bergerak pada rentang 6.340--6390, dengan level support 6.230. Dia menambahkan, sentimen bullish ini, investor menjadi blue chip sebagai pilihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup