Perang Dagang Berlarut-Larut, Bank Sentral China Kembali Beli Emas

Bank Sentral China kembali membeli emas sebagai cadangan devisanya seiring dengan perang dagang AS dan China yang berlarut-larut sehingga melukai ekspektasi pertumbuhan dan mendorong permintaan untuk mendiversifikasi portfolio.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  14:55 WIB
Perang Dagang Berlarut-Larut, Bank Sentral China Kembali Beli Emas
Harga emas - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral China kembali membeli emas sebagai cadangan devisanya seiring dengan perang dagang AS dan China yang berlarut-larut sehingga melukai ekspektasi pertumbuhan dan mendorong permintaan untuk mendiversifikasi portfolio.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan bahwa penambahan cadangan emas mencerminkan tekad pemerintah China untuk mendiversifikasi aset cadangan dan menjauh dari aset dolar AS.

Bank Sentral China atau The People’s Bank of China (PBOC) meningkatkan cadangan emas batangannya menjadi 61,61 juta ons pada Mei dan merupakan pembelian emas batangan selama 6 bulan terturut-turut. Adapun, pada April, tercatat cadangan emas batangan China sebesar 61,10 juta ons.

Dalam istilah tonase, cadangan emas Bank Sentral China naik 15,86 ton, setelah hampir 58 ton emas dibeli China sebagai cadangan devisa dalam 5 bulan terakhir hingga April 2019.

"Secara akumulasi pada pembelian emas batangannya saat ini, China diperkirakan dapat membeli hingga 150 ton pada 2019," ujar Helen seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (10/6/2019).

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek mengatakan bahwa diversifikasi dilakukan China mengingat ketegangan perdagangan AS dan China yang kembali meningkat.

Seperti diketahui, China sebagai produsen dan konsumen emas terbesar di dunia, tengah menghadapi prospek ekonomi dalam negeri yang cukup buruk, berpotensi melambat akibat pemerintah AS kembali menaikkan tarif impor China.

Selain itu, pemerintah AS yang memberikan sanksi terhadap perusahaan teknologi terbesar China, Huawei Technologies, juga telah membebani prospek pertumbuhan ekonomi.

Adapun, China sebelumnya tidak menunjukkan peningkatan dalam pembelian emas untuk waktu yang cukup lama.

China melakukan pembelian emas pertama kali dalam 6 tahun yaitu pada pertengahan 2015, ketika bank sentral mengumumkan kenaikan 57% pembelian emas menjadi 53,3 juta ons.

Perusahaan keuangan Citigroup memprediksi pembelian emas resmi oleh bank sentral di seluruh dunia dapat mencapai lebih dari 700 ton pada tahun ini jika tren pembelian emas dari bank sentral China berlanjut.

Di sisi lain, pada perdagangan Senin (10/6/2019) hingga pukul 14.00 WIB, harga emas di pasar spot berbalik melemah 1,01 persen menjadi US$1.327,36 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas untuk kontrak Agustus 2019 di bursa Comex bergerak melemah 1,04 persen menjadi US$1.332,1 per troy ounce.

Padahal, sebelumnya harga emas telah meningkat selama 3 minggu terakhir, menyentuh level tertingginya sejak April 2018 karena investor mencari tempat berlindung akibat meningkatnya ketidakpastian pasar.

Mengutip Reuters, harga emas terkoreksi akibat kesepakatan antara AS dan Meksiko untuk mencegah perang tarif yang mengganggu permintaan aset investasi aman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, Harga Emas Hari Ini

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top