Perusahaan Gas Negara (PGAS) Kaji Emisi Obligasi

PT Perusahaan Gas Negara Tbk. mengkaji penerbitan obligasi sebagai strategi untuk pendanaan kembali akuisisi PT Pertamina Gas yang telah dirampungkan oleh perseroan.
Perusahaan Gas Negara (PGAS) Kaji Emisi Obligasi M. Nurhadi Pratomo | 10 Juni 2019 18:55 WIB
Perusahaan Gas Negara (PGAS) Kaji Emisi Obligasi
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menggelar BUMN Goes to Campus di universitas Katolik Santo Thomas Medan, Selasa (23/4/2019). - Istimewa

Bisnis.com,JAKARTA — PT Perusahaan Gas Negara Tbk. mengkaji penerbitan obligasi sebagai strategi untuk pendanaan kembali akuisisi PT Pertamina Gas yang telah dirampungkan oleh perseroan.

Direktur Utama Perusahaan Gas Negara Gigih Prakoso menuturkan perseroan berencana melakukan pendanaan kembali atau refinancing pada 2019. Menurutnya, salah satu skema yang dipertimbangkan perseroan yakni penerbitan obligasi.

“Rencana tahun ini, [jumlahnya] sedang dihitung oleh teman-teman,” ujarnya saat ditemui di Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Senin (10/6/2019).

Sebagai catatan, emiten berkode saham PGAS itu menuntaskan akuisisi 51% saham Pertamina Gas sejalan dengan pelunasan surat sanggup atau promissory note kepada PT Pertamina (Persero) senilai Rp10,22 triliun. Produsen gas milik negara itu menggunakan dana internal untuk menyelesaikan aksi korporasi tersebut.

Dalam Amandemen dan Pernyataan Kembali Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarakat yang diteken oleh PGAS dan Pertamina, nilai akuisisi yang disepakati senilai Rp20,18 triliun. Berdasarkan perjanjian, pembayaran dilaksanakan dalam dua tahap yakni 50% dari nilai transaksi yang telah dibayarkan oleh perseroan pada 28 Desember 2018 dan sebesar 50% dari promissory note. 

Sementara itu, Gigih menuturkan perseroan telah merealisasikan 30%—40% dari belanja modal atau capital expenditure (capex) yang dianggarkan sampai dengan kuartal I/2019. Total capex yang dialokasikan perseroan pada tahun ini senilai US$500 juta. “Kami tahun ini capex US$500 juta, realisasi sampai dengan kuartal I/2019 utamanya untuk proyek pipanisasi,” jelasnya.

Berdasarkan laporan kuartal I/2019, PGAS melaporkan laba bersih senilai US$65,09 juta. Jumlah itu turun 28,55% dari US$91,11 juta per akhir Maret 2018. Adapun, PGAS menyebut penjualan terbesar diraup dari penjualan gas sebesar US$661,5 juta, serta penjualan minyak dan gas bumi US$92,8 juta.

Gigih menjelaskan bahwa penurunan kinerja pada kuartal I/2019 disebabkan oleh turunnya volume pasokan dari ConocoPhillips. Kondisi membuat volume produksi perseroan turun signifikan.

Selain itu, lanjut dia, perseroan juga menghadapi turunnya pasokan dari Jawa Timur sekitar 30% dari total biasanya. Dua faktor tersebut menurutnya berkontribusi cukup besar terhadap penurunan volume produksi perseroan. “Kami akan coba kejar volume pada April 2019—Desember 2019. Sampai April 2019, volume sudah mulai naik,” tuturnya.

Sejalan dengan peningkatan tersebut, Gigih optimisis kinerja perseroan akan membaik pada semester I/2019. Apalagi, kebutuhan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga meningkat.

“Kami bekerja sama dengan PLN untuk meningkatkan pasokan gas,” imbuhnya.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, PGN, kinerja emiten, perusahaan gas negara

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top