Dolar AS Tertekan Sentimen Data Manufaktur dan Perang Dagang

Dolar AS pada perdagangan Senin malam tadi terpantau terpukul kelevel terendah satu minggu seiring dengan melambatnya aktivitas manufaktur AS. Kini, indeks dolar AS belum keluar dari tren tertekan.
Dolar AS Tertekan Sentimen Data Manufaktur dan Perang Dagang
Hafiyyan - Bisnis.com 04 Juni 2019  |  12:16 WIB
Dolar AS Tertekan Sentimen Data Manufaktur dan Perang Dagang
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Dolar AS pada perdagangan Senin malam tadi terpantau terpukul kelevel terendah satu minggu seiring dengan melambatnya aktivitas manufaktur AS. Kini, indeks dolar AS belum keluar dari tren tertekan.

Hingga akhir perdagangan, indeks dolar AS ditutup melemah ke level 97,142. Pada hari ini, Selasa (4/6/2019) pukul 11:50 WIB, indeks dolar AS naik 0,01% atau 0,011 poin menuju 97,153.

Tim analis Asia Trade Point Futures menyebutkan, berdasarkan data yang dirilis oleh ISM, Manufacturing PMI periode Mei turun 52,1 atau di bawah periode sebelumnya 52,8. Angka ini tercatat berada di level terendah sejak Oktober 2016.

“Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap dampak perang dagang global pada ekonomi, sehingga menekan dolar AS,” paparnya, Selasa (4/6/2019).

Selain itu, ketegangan juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif kepada Meksiko sebagai imbas dari masalah imigran gelap. Tarif sebesar 5% itu berlaku pada 10 Juni 2019.

Dolar AS juga tertekan sentimen dovish The Fed. Kepala Fed St. Louis James Bullard mengatakan penurunan suku bunga Fed akan segera dipastikan.

Menurut Bulladr, menurunkan target suku bunga jangka pendek bank sentral dapat dilakukan untuk menopang inflasi dan melawan risiko ekonomi dari meningkatnya perang perdagangan.

Bullard memang dikenal sebagai figur pejabat The Fed yang dovish, anggota FOMC yang memiliki hak suara penentuan bunga Fed di tahun ini, dan pendukung utama untuk menjaga biaya pinjaman tetap rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top