Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Bersih Barito Pacific (BRPT) Turun 80,4 Persen pada Kuartal I/2019

Periode Januari-Maret 2019 diklaim sebagai periode yang menantang bagi perseroan seiring dengan ketidakpastian perang dagang AS-China.
Direksi Barito Pacific berfoto usai rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 di Jakarta, Rabu (15/5/2019)./Bisnis-M. Nurhadi Pratomo
Direksi Barito Pacific berfoto usai rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 di Jakarta, Rabu (15/5/2019)./Bisnis-M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, JAKARTA — PT Barito Pacific Tbk. membukukan penurunan laba bersih 80,4 persen secara tahunan pada kuartal I/2019. 

Dalam laporan keuangan kuartal I/2019, yang dikutip Bisnis pada Sabtu (1/6/2019), Barito Pacific melaporkan pendapatan US$679,24 juta pada kuartal I/2019. Posisi itu turun 17,82 persen dari US$826,52 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Selanjutnya, beban pokok pendapatan perseroan tercatat senilai US$514,66 juta, turun 11,52 persen dibandingkan dengan US$581,70 pada kuartal I/2018.

Dari situ, perseroan membukukan laba bruto US$164,57 juta per akhir Maret 2019. Pencapaian tersebut turun 32,78 persen dari US$244,82 juta pada kuartal I/2018.

Sementara itu, beban penjualan yang dikeluarkan perseroan tercatat menyusut 9,76 persen secara tahunan menjadi US$11,1 juta. Sebaliknya, beban keuangan tercatat naik 5,56 persen menjadi US$51,1 juta pada kuartal I/2019.

Dengan demikian, emiten bekode saham BRPT itu membukukan laba bersih US$5,8 juta pada kuartal I/2019, lebih rendah 80,4 persen dari US$29,59 juta pada periode yangs sama tahun lalu.

Dalam siaran persnya, Direktur Utama Barito Pacific Agus Pangestu menuturkan kuartal I/2019 merupakan periode yang menantang karena situasi perang dagang yang semakin intensif antara AS dan China.

“Bisnis petrokimia kami terekspose pada tingkat margin yang lebih rendah meskipun diimbangi oleh turunnya harga naphtha, sedangkan Star Energy terus memberikan kontribusi yang stabil terhadap pendapatan konsolidasian kami, yang mana hal ini membantu perseroan mengurangi efek makro global yang menantang,” paparnya.

Secara keseluruhan, Agus mengklaim perseroan masih mencatatkan kinerja keuangan yang sehat dengan margin Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) 24 persen dan tingkat utang bersih terhadap EBITDA secara konsolidasian sebesar 2,4 kali.

“Kami akan tetap fokus kepada pertumbuhan kapasitas dan mempertahankan tingkat operasi pabrik yang tinggi. Kontribusi dari bisnis panas bumi akan terus mendukung kinerja keuangan kami secara keseluruhan di masa depan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Annisa Margrit
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper