Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Indofood (INDF) Alokasikan Capex Rp7,4 Triliun

PT Indofood Sukses Makmur Tbk. menganggarkan belanja modal sebesar Rp7,4 triliun untuk melaksanakan ekspansi bisnis pada tahun ini dan mengejar pertumbuhan pendapatan pada level high single digit. 
Indofood/Antara
Indofood/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - PT Indofood Sukses Makmur Tbk. menganggarkan belanja modal sebesar Rp7,4 triliun untuk melaksanakan ekspansi bisnis pada tahun ini dan mengejar pertumbuhan pendapatan pada level high single digit. 

Direktur Utama Indofood Sukses Makmur Anthoni Salim mengatakan, periode puasa dan Lebaran bakal mengerek penjualan produk makanan dan minuman. Dia memperkirakan segmen makanan dan minuman dapat tumbuh sekitar 10% pada periode itu. 

Lebih lanjut, perseroan memasang target pertumbuhan penjualan pada level high single digit pada tahun ini. Hingga kuartal I/2019, penjualan bersih INDF mencapai Rp19,17 triliun atau tumbuh 8,73% secara tahunan. 

Perseroan belum meningkatkan harga jual rata-rata produk pada tahun ini. Kenaikan harga jual rata-rata produk masih mempertimbangkan kondisi pasar. 

"Feeling saya mestinya [puasa dan Lebaran] bisa naik 10% ya," katanya. 

Direktur Keuangan Indofood Sukses Makmur Thomas Tjhie mengatakan, perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp7,4 triliun pada tahun ini. Alokasi belanja modal ini di antaranya untuk entitas anak PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. sebesar Rp3,9 triliun, PT Bogasari Flour Mills sebesar Rp1,4 triliun, untuk lini usaha agribisnis sebesar Rp1,9 triliun, dan untuk lini usaha distribusi sebesar Rp200 miliar. 

"Untuk agrisbisnis, kami masih ada penanaman yang butuh capex," katanya. 

Thomas menjelaskan, alokasi belanja modal berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Lebih lanjut, perseroan menunda rencana penerbitan obligasi karena kondisi pasar kurang bagus. 

Perseroan akan menunda penerbitan obligasi hingga kondisi pasar membaik. Penerbitan obligasi itu semula direncanakan untuk refinancing obligasi jatuh tempo pada 13 Juni 2019.

Sebagai informasi, pada Februari 2019, INDF mengumumkan rencana melakukan penawaran umum obligasi dalam mata uang rupiah. Untuk pelaksanaan proses penawaran umum obligasi itu, perseroan berniat menunjuk 6 joint lead. 

Perseroan telah menyiapkan dana untuk pembayaran pokok obligasi Indofood Sukses Makmur VII Tahun 2014 sebesar Rp2 triliun dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang ada dari beberapa bank. 

"Rencana obligasi awalnya untuk refinancing. Tapi setelah kami pelajari marketnya kurang bagus, kuponnya mahal," katanya. 

Terkait rencana delisting PT Indofood Agri Resources Ltd. (IFAR) dari bursa Singapura, Anthoni menjelaskan rencana ini mempertimbangkan alasan komersial. Perseroan melihat keuntungan dari pertumbuhan volume produksi kebun yang baik bagi Indofood.

Saat ini penawaran tunai bersyarat atas seluruh saham IFAR diperpanjang dari semula 24 Mei 2019 pukul 17:00 waktu Singapura menjadi 25 Juni 2019 pukul 17:00 waktu Singapura. Perpanjangan ini karena yang telah menerima penawaran sebanyak 102,82 juta saham atau mewakili 7,37% dari total saham IFAR, sehingga syarat penawaran belum terpenuhi. 

Untuk mendorong penjualan, Direktur INDF Axton Salim mengungkapkan, Indofood terus memenuhi permintaan konsumen dengan meluncurkan berbagai varian rasa. Di samping itu, penetrasi penjualan ritel dilakukan melalui e-store seperti Tokopedia, Elevania, dan IDMarco. 

Adapun, perang dagang antara AS-China belum berpengaruh pada kinerja perseroan, karena Indofood masih fokus pada pasar domestik. Hingga kuartal I/2019, penjualan ekspor berkontribusi 9,70% terhadap penjualan bersih sebesar Rp19,17 triliun. 

"Pasar middle east dan negara berkembang masih oke. Pasar Indonesia juga masih belum terpenuhi semuanya," imbuhnya.

Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar Rabu (29/5/2019), menyepakati rasio dividen tunai sebesar 50% dari laba bersih perseroan pada 2018. Mengacu pada dividen ratio tersebut, dividen INDF sebesar Rp236 per saham dan ICBP sebesar Rp195 per saham. 

Nilai dividen INDF untuk tahun buku 2018 lebih rendah dibandingkan dengan tahun buku 2017 sebesar Rp237 per saham. Adapun, nilai dividen ICBP untuk tahun buku 2018 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun buku 2017 sebesar Rp162 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper