Polarisasi Parlemen Eropa Bebani Euro, Dolar AS Menguat

Pergerakan indeks dolar AS menguat saat nilai tukar euro tergelincir usai Pemilu Uni Eropa (UE).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  11:19 WIB
Polarisasi Parlemen Eropa Bebani Euro, Dolar AS Menguat
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar AS mampu menguat pada perdagangan Selasa (28/5/2019) pagi, saat nilai tukar euro tergelincir di tengah penantian investor atas katalis lebih lanjut pascapemilu parlemen Uni Eropa.

Berdasarkan data Reuters, pergerakan indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, menguat 0,15 persen ke level 97,746. Sepanjang tahun ini, indeks dolar telah naik 1,65 persen.

Adapun nilai tukar euro, yang memiliki sekitar 58 persen bobot pada indeks dolar AS, berada di level US$1,1192 setelah terpental dari level tertinggi dalam 1,5 pekan di 1,1215 semalam.

Nilai tukar euro sempoyongan setelah dua pejabat zona euro mengatakan bahwa Komisi Eropa kemungkinan akan memulai langkah-langkah disipliner terhadap Italia. Langkah itu bakal diberlakukan pada 5 Juni atas meningkatnya utang dan tingkat defisit struktural di Italia yang melanggar aturan-aturan Uni Eropa (UE).

Sementara itu, pemilu parlemen UE menunjukkan polarisasi pada 28 anggota blok tersebut. Hasil sementara menunjukkan partai-partai pro-Eropa tetap berpegang teguh pada parlemen UE.

“Ada polarisasi parlemen Eropa yang merupakan semacam representasi dari situasi politik Eropa secara keseluruhan. Ini akan negatif untuk euro,” ujar Masafumi Yamamoto, kepala strategi mata uang di Mizuho Securities.

Dia menambahkan kabar tentang kemungkinan diberlakukannya langkah-langkah disipliner terhadap Italia atas utang nasionalnya juga menambah beban euro. Namun, reaksi pasar terbatas karena AS dan Inggris sedang libur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup