Penyerapan SBN Ritel Dibayangi Oversupply

Total penawaran obligasi ritel pada kuartal I/2019 sudah mencapai Rp28.2 triliun. Membandingkan dengan periode yang sama tahun lalu total penawaran obligasi retail ritel hanya mencapai Rp8,4 triliun.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  06:57 WIB
Penyerapan SBN Ritel Dibayangi Oversupply
Direktur Surat Utang Negara (SUN) pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA— Tingginya tingkat suplai obligasi ritel tahun ini diperkirakan menjadi faktor yang membayangi rendahnya penyerapan hingga akhir tahun.

Head of Fixed Income Syailendra Capital Enry Danil mengatakan bukan hal yang mustahil untuk mencapai target indikatif penerbitan yang ditetapkan pemerintah. Namun, lambatnya penyerapan pasar bisa saja terjadi dengan tingginya tingkat suplai obligasi ritel selama 1 tahun terakhir.

Total penawaran obligasi ritel pada kuartal I/2019 sudah mencapai Rp28.2 triliun. Membandingkan dengan periode yang sama tahun lalu  total penawaran obligasi retail ritel hanya mencapai Rp8,4 triliun.

“Sementara faktor lain juga bisa timbul muncul dari tren kupon obligasi ritel yang menurun. Tren penurunan bunga menyebabkan appetite atau minat pelaku pasar juga ikut menurun,” jelasnya kepada Bisnis akhir pekan ini.

Sejauh ini minat masyarakat untuk berinvestasi di instrumen SBN Ritel  masih cukup tinggi kendati kebutuhan konsumsi di bulan Ramadhan semakin meningkat. Hasil penjualan ST004 melebihi target indikatif yang telah ditetapkan Pemerintah (oversubscribe sekitar 1,3 kali).

Pengamat pasar modal Anil Kumar mengatakan bahwa penyerapan investor yang kuat justru terjadi pada akhir masa penawaran. Hal yang mempengaruhi keputusan investor oleh bonus dan dividen yang dikeluarkan perusahaan pada bulan ini.

Kestabilan pendapatan tersebut membuat investor individual masih bisa menyisihkan kepentingan investasi meskipun tingkat konsumsi juga tinggi.

Adapun Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menetapkan hasil penjualan Sukuk Negara Tabungan (Sukuk Tabungan) seri ST004 senilai Rp2,63 triliun dari 12.528 investor individual.

ST004 juga menjangkau 6.266 investor baru. Investor baru ST004 mayoritas berasal dari wilayah Indonesia Bagian Barat (selain DKI Jakarta) yaitu sebanyak 3.922 investor (62,6 persen), dan juga didominasi oleh generasi Milenial yaitu sebanyak 3.692 investor (58,9 persen).

Pascalebaran pemerintah akan melanjutkan penawraan SBR007  pada 11 – 25 Juli 2019 dan ST-005 pada 8 – 22 Agustus 2019.

Rata-rata volume pemesanan per investor ST004 mencapai Rp210 juta yang menjadi tingkat terbaik sepanjang penerbitan SBN Ritel .

DOMINASI MILENIAL

Generasi Milenial mendominasi jumlah investor ST004 yaitu sebanyak 6.494 investor (51,8 persen), mengalami peningkatan dibandingkan ST003 (51,7 persen) dan ST001 (37,7 persen). Adapun dari sisi volume pemesanan, generasi Baby Boomers adalah yang terbesar yaitu mencapai 42,4 persen dari total volume pemesanan.

Generasi Z (di bawah 19 tahun) yang berinvestasi pada ST004 juga semakin meningkat, yaitu menjadi 32 investor dengan jumlah pemesanan sebesar Rp5,75 miliar. Meningkat cukup signifikan dibandingkan pada ST003 yang sebanyak 12 investor (3,64 miliar).

Wilayah Indonesia Bagian Barat (selain DKI Jakarta) mendominasi pemesanan ST004 baik dari sisi jumlah investor (60,2 persen) maupun volume pemesanan (47,5 persen).

Pegawai swasta mendominasi pemesanan ST004 dari sisi jumlah investor, yaitu sebanyak 4.682 investor (37,4 persen). Sedangkan Wiraswasta mendominasi dari sisi volume pemesanan, yaitu sebesar Rp931,7 miliar (35,4 persen).

“Di luar pencapaian tersebut, pemerintah dan mitra distribusi masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan partisipasi investor di wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur yang masih relatif rendah,” jelasnya.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, dengan karakteristik milenial yang mendominasi pembelian, maka pemerintah seharusnya mempertahankan untuk memberikan kupon yang menarik. Pasalnya, karakteristik investor ini hanya memahami bahwa kupon obligasi lebih menarik ketimbang deposito.

HARUSNYA DI ATAS SUN

Maximilianus mengungkapkan, obligasi ritel semestinya mengacu kepada imbal hasil SUN. Mengingat dengan jatuh tempo yang sama, semestinya kupon berada di atas SUN. Namun, saat ini SUN jatuh tempo 3 tahun dengan tingkat yield di kisaran 8.05 persen, akan tetapi rata-rata obligasai ritel masih di level 7.95 persen.

Pemberian tingkat kupon yang menarik, tekan dia merupakan harga yang harus dibayar oleh pemerintah untuk membesarkan pasar ritel. Selain itu, kupon obligasi ritel memiliki persaingan ketat dengan bunga deposito bank buku 1 dan buku 2. Berdasarkan data OJK per Februari 2019, rata-rata bunga deposito di atas 12 bulan bank buku 1 adalah 8,16 persen. Sementara itu, rerata bunga deposito bank buku 2 di atas 12 bulan cenderung naik menjadi sebesar 7,58 persen

Dia mengkhawatirkan hal tersebut juga akan membuat tujuan pemerintah dalam edukasi dan sosialisai tidak bisa berjalan. Padahal obligasi ritel merupakan hal yang baik untuk menggeser kepemilikkan yang didominasi asing menjadi investor lokal.

“Percuma kita melakukan edukasi, sosialisasi, literasi, namun pada kenyataannya, orang tidak akan beralih kepada obligasi. Mereka [investor] suka edukasi, tetapi mereka lebih suka gurihnya kupon.Lebih baik pemerintah memperbaiki dulu kuponnya daripada buang uang buat edukasi dan sosialisasi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, sbn

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup