Akuisisi Tambang Batu Bara Marak

Di tengah tren penurunan harga batu bara, sejumlah emiten merancang langkah akuisisi tambang untuk menangkap peluang peningkatan permintaan pada masa mendatang.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  12:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah tren penurunan harga batu bara, sejumlah emiten merancang langkah akuisisi tambang untuk menangkap peluang peningkatan permintaan pada masa mendatang.

Aksi akusisi terhadap emiten tambang menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (27/5/2019). Berikut laporannya.

Beberapa emiten yang menjajaki aksi korporasi itu adalah PT Harum Energy Tbk., PT Golden Eeagle Energy Tbk., PT Toba Bara Sejahtra Tbk., dan PT Bukit Asam Tbk.

Ray Antonio Gunara, Direktur Utama Harum Energy, menjelaskan bahwa pihaknya membuka peluang untuk mengakuisisi tambang batu bara baru untuk menambah kapasitas produksi perusahaan.

Dia menjelaskan, tambang batu bara yang akan diakuisisi harus dekat dengan tambang-tambang milik perusahaan, serta telah masuk fase produksi dan memiliki tingkat kalori setara dengan produksi perseroan saat ini.

“Kami akan mencadangkan dana secara khusus hanya setelah peluang-peluang tersebut teridentifikasi dengan jelas,” tuturnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Saat ini, perseroan memiliki lima anak usaha yang bergerak di bidang pertambangan batu bara yakni PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ), PT Santan Batubara (SB), PT Tambang Batubara Harum (TBH), PT Karya Usaha Pertiwi (KUP), dan PT Bumi Karunia Pertiwi (BKP).

Emiten berkode saham HRUM ini memiliki estimasi sumber daya JORC (Joint Ore Reserves Committee) batu bara sekitar 487 juta ton. Jumlah cadangan yang dimiliki sebesar 64 juta ton per 31 Maret 2019.

MSJ memproduksi batu bara 0,6 juta ton pada kuartal I/2019. Nilai kalori dari entitas anak tersebut yakni 5.800 kcal/kg—6.400 kcal/kg. Selanjutnya, SB memproduksi 0,4 juta ton per 31 Maret 2019. Nilai kalori yang dihasilkan anak usaha tersebut yakni 5.400 kcal/kg—6.400 kcal/kg.

Selain itu, HRUM juga akan masuk ke bisnis pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan mengincar sejumlah tender baru. Saat ini, perusahaan belum memiliki lini bisnis di segmen tersebut.

Di sisi lain, Direktur Utama Golden Eeagle Energy Roza Permana Putra menuturkan perseroan terus melihat potensi penambahan cadangan batu bara, baik secara organik maupun anorganik. Pihaknya tengah melakukan kajian terhadap sejumlah tambang untuk diakuisisi.

Dia menjelaskan bahwa tambang baru yang dibidik berdekatan dengan dua lokasi operasi perseroan saat ini. Namun, pihaknya belum memutuskan untuk mencaplok berapa tambang tahun ini.

“Saat ini, mungkin ada di Sumatra ada 1 tambang dan di Kalimantan sedang mengkaji 2 tambang,” paparnya.

Emiten berkode saham SMMT itu memiliki dua aset tambang batu bara utama yang telah beroperasi yakni PT Internasional Prima Coal di Kalimantan dan PT Triaryani di Sumatra Selatan.

Pada 2018, volume penjualan batu bara dari Internasional Prima Coal mencapai 922.000 ton atau tumbuh 8% secara tahunan. Adapun, Triaryani merealisasikan volume penjualan 480.000 ton atau tumbuh 240% secara tahunan.

Toba Bara Sejahtra juga mengincar tambang baru untuk diakuisisi. Direktur Toba Bara Sejahtra Pandu Sjahrir mengatakan pihaknya menyiapkan dana sekitar US$65 juta hingga US$70 juta untuk membiayai rencana tersebut.

Pihaknya juga mengkaji untuk berekspansi di segmen pembangkit listrik. “Seharusnya dana tidak beda jauh dari tahun lalu dari sisi akuisisi. Pilih salah satu untuk tahun ini,” jelasnya.

Pada 2019, emiten berkode saham TOBA ini menganggarkan belanja modal sekitar US$190 juta hingga US$200 juta. Sekitar 90%—95% dari belanja modal itu dialokasikan untuk PLTU Sulbagut-1 dan Sulut 3.

Tidak hanya perusahaan swasta, badan usaha milik negara (BUMN) di sektor pertambangan juga memiliki rencana serupa. Arviyan Arifin, Direktur Utama Bukit Asam, menuturkan perseroan tengah mengkaji akuisisi anak usaha di bidang pertambangan.

Produsen batu bara milik negara itu mengincar lokasi tambang yang berada di luar Pulau Sumatra. “Salah satu mandat dari holding, luar negeri kalau perlu, jika memang ada,” jelasnya.

Bukit Asam melaporkan produksi batu bara 5,70 juta ton pada kuartal I/2019. Realisasi itu tumbuh 8% dibandingkan dengan capaian 5,28 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Pada 2019, emiten bersandi saham PTBA itu merencanakan produksi batu bara sebesar 27,26 juta ton. Target itu naik 3% dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu sebanyak 26,36 juta ton.

PERMINTAAN TINGGI

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menjelaskan bahwa di tengah pasang surut harga batu bara, permintaan terhadap komoditas itu masih tinggi di negara-negara berkembang.

Bahkan, beberapa negara maju, khususnya di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, masih membutuhkan batu bara kalori tinggi untuk keperluan industri. Menurutnya, kebutuhan batu bara di Asia tetap tinggi hingga 10 tahun-15 tahun ke depan.

“Ketika harga batu bara sedang stagnan atau rendah, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk ekspansi atau membeli saham beberapa emiten batu bara yang sudah turun dalam,” paparnya.

Dalam perkembangan lain, sejumlah produsen batu bara menantikan kepastian mengenai perpanjangan operasi dengan perusahan status menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang rencananya diatur dalam perubahan keenam Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010.

Menurut Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia Pandu Sjahrir, rencana investasi jangka panjang para pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) sangat bergantung pada kepastian regulasi itu.

Dia mengatakan, hal itu tidak bisa ditunda lagi karena sejumlah perusahaan tak akan segera habis kontraknya. Kontrak PT Tanito Harum, misalnya, sudah habis pada 14 Januari 2019.

Selain itu, beberapa pemegang PKP2B Generasi I yang kontraknya akan berakhir dalam waktu dekat adalah PT Kendilo Coal Indonesia pada pada 2021, PT Kaltim Prima Coal pada 2021, PT Multi Harapan Utama pada 2022, PT Arutmin Indonesia pada 2020, PT Adaro Indonesia pada 2022, PT Kideco Jaya Agung pada 2023, serta PT Berau Coal pada 2025.

Pandu menuturkan, tidak adanya kepastian itu membuat investasi para produsen bisa terganggu, termasuk rencana produksi dalam beberapa tahun ke depan.

“Siapa yang mau investasi kalau enggak jelas aturannya? Sekarang perusahaan mungkin hanya berani investasi untuk short term atau medium term saja dengan produksi secukupnya.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, emiten tambang, harga batu bara

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup