Data Tenaga Kerja Solid, Dolar AS Lanjutkan Penguatan

Indeks dolar AS mengalami tren penguatan seiring dengan solidnya pasar tenaga kerja Paman Sam. Di sisi lain, Fed menegaskan tidak ada rencana menurunkan suku bunga.
Data Tenaga Kerja Solid, Dolar AS Lanjutkan Penguatan Hafiyyan | 24 Mei 2019 09:38 WIB
Data Tenaga Kerja Solid, Dolar AS Lanjutkan Penguatan
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks dolar AS mengalami tren penguatan seiring dengan solidnya pasar tenaga kerja Paman Sam. Di sisi lain, Fed menegaskan tidak ada rencana menurunkan suku bunga.

Pada perdagangan Jumat (24/5/2019) pukul 9.20 WIB, indeks dolar AS (DXY) naik 0,009 poin atau 0,01% menjadi 97,865. Harga cenderung meningkat sejak 13 Mei 2019 di level 97,319.

Tim analis Asia Trade Point Futures dalam laporannya menyampaikan, performa dolar AS semakin kokoh sepanjang sesi perdagangan malam tadi. Tercatat nilai tukar mata uang DXY berada di level tertinggi satu bulan menyusul solidnya pasar tenaga kerja AS.

“Berdasarkan data yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS, klaim pengangguran mingguan turun menjadi 211.000 pekerja dan ini adalah penurunan berturut-turut dalam tiga minggu,” paparnya, Jumat (24/5/2019).

Selain itu, dukungan bagi greenback juga datang dari sikap The Fed yang belum merubah sikapnya terkait suku bunga. Dalam notulensinya The Fed tetap memilih untuk mengambil sikap bersabar dan tidak mempunyai rencana untuk memangkas suku bunga.

DXY merupakan perbandingan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Besar bobot masing-masing mata uang ditentukan oleh Federal Reserve berdasarkan pengaruhnya terhadap perdagangan Amerika Serikat.

Bobot yang paling besar terhadap DXY adalah mata uang Euro (EUR) sebesar 57,6%, disusul yen (JPY) 13,6%, poundsterling (GBP) 11,9%, dolar Kanada 9,1%, krona Swedia 4,2%, dan franc Swiss 3,6%.

Di tempat lain, mata uang Poundsterling berada dibawah tekanan seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap situasi politik Inggris. Dikabarkan PM Inggris Theresa May akan mengundurkan diri dalam beberapa hari kedepan.

Hal tersebut dilakukan setelah Partai pengusung May menjelaskan bahwa mereka tidak setuju dengan draf kesepakatan Brexit yang diajukan oleh May. Tercatat GBPUSD ditutup turun sekitar 0,05% semalam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as, nilai tukar rupiah

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top