Bursa Global Mampu Naik di Tengah Eskalasi Perang Dagang

Bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat (AS) mampu bergerak ke posisi lebih tinggi bersama bursa Asia pada perdagangan siang ini, Jumat (24/5/2019), di tengah bertahannya eskalasi tensi perdagangan antara AS dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  14:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa dan indeks futures Amerika Serikat (AS) mampu bergerak ke posisi lebih tinggi bersama bursa Asia pada perdagangan siang ini, Jumat (24/5/2019), di tengah bertahannya eskalasi tensi perdagangan antara AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 naik 0,5 persen pada pukul 08.17 pagi waktu London (pukul 14.17 WIB).

Pada saat yang sama, indeks futures S&P 500 naik 0,4 persen, indeks FTSE 100 Inggris ikut naik 0,4 persen, kenaikan terbesarnya dalam lebih dari sepekan. Adapun indeks MSCI Emerging Market menguat 0,3 persen dan indeks MSCI Asia Pacific naik 0,2 persen.

Dilansir Bloomberg, saham produsen mobil berhasil mendorong indeks Stoxx Europe 600 ke posisi lebih tinggi setelah berakhir terkapar di zona merah pada perdagangan sebelumnya.

Indeks futures pada S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq 100 juga bangkit dari penurunan tajam sehari sebelumnya. Sementara itu, bursa saham di Asia menguat, ditopang indeks saham di India.

Meski demikian, indeks saham global bergerak menuju penurunan mingguan ketiga berturut-turut, rentetan penurunan terpanjang tahun ini.

Sementara itu, penguatan dalam obligasi pemerintah menunjukkan tanda-tanda pelonggaran setelah imbal hasil pada obligasi tresuri bertenor 10 tahun turun kurang dari satu basis poin menjadi 2,32 persen, terendah dalam lebih dari 18 bulan.

Pergerakan dolar AS melemah sehingga mendorong nilai tukar euro lebih tinggi. Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1 persen ke level terendah dalam lebih dari sepekan, sedangkan nilai tukar euro menguat 0,2 persen ke level US$1,1199.

Di sisi lain, nilai tukar pound sterling naik 0,1 persen ke level US$1,2675 menyusul kabar bahwa Perdana Menteri Inggris Theresa May bakal mengumumkan jadwal waktu pengunduran dirinya.

Menjelang akhir pekan yang panjang baik untuk AS maupun Inggris, kekhawatiran bahwa konflik perdagangan AS-China dapat melumpuhkan pertumbuhan global telah meningkat.

“Perang perdagangan akan menyebabkan pertumbuhan melambat, baik di AS maupun China, dan juga secara global, tidak ada keraguan tentang hal itu,” ujar Komal Sri-Kumar, pendiri dan Presiden Sri-Kumar Global Strategies Inc.

Setelah penutupan perdagangan di Wall Street pada Kamis (23/5), Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Huawei Technologies Co., yang dimasukkan dalam daftar hitam AS awal bulan ini, dapat menjadi bagian dari kesepakatan perdagangan dengan China.

"Mungkin terlalu jauh jika ada optimisme atas kesepakatan perdagangan tetapi mungkin ada sedikit lebih optimisme atas bagaimana wacananya berkembang,” ujar chief economist Investec Philip Shaw, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa global, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top