Perang Dagang AS-China Memanas, Aset Reksa Dana Pasar Uang Melejit

Aset tersebet naik US$40,67 miliar menjadi US$3,092 triliun selama sepekan yang berakhir pada 21 Mei. Hal itu menandai nilai tertinggi sejak Maret 2010, menurut Money Fund Report seperti dikutip Reuters, Kamis (23/5/2019).
John Andhi Oktaveri | 23 Mei 2019 04:49 WIB
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Aset reksa dana pasar uang AS mencapai level tertinggi dalam lebih dari sembilan tahun akibat investor menanamkan modal mereka ke dalam investasi berisiko rendah menyusul meningkatnya ketegangan perdagangan antara China dan Amerika Serikat, menurut satu laporan lembaga swasta.

Aset tersebet naik US$40,67 miliar menjadi US$3,092 triliun selama sepekan yang berakhir pada 21 Mei. Hal itu menandai nilai tertinggi sejak Maret 2010, menurut Money Fund Report seperti dikutip Reuters, Kamis (23/5/2019).

Angka itu sekaligus merupakan kenaikan satu minggu terbesar sejak Desember tahun lalu. Reksa dana pasar uang memiliki risiko lebih rendah daripada reksa dana saham, camppuran, maupun reksa dana pendapatan tetap. Namun, return yang diberikan juga lebih rendah.

Pada awal bulan ini, Washington menaikkan tarif impor China senilai US$200 miliar, menjadi 25 persen dari 10 persen. Hal itu mendorong Beijing untuk membalas dengan menaikkan tarif impor produk AS seteah pembicaraan untuk mengakhiri perang dagang selama 10 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia gagal.

Kemunduran yang mengejutkan dalam negosiasi perdagangan antara China dan Amerika Serikat telah mengguncang kepercayaan investor. Kondisi tersebut menyebabkan pengalihan aset kepada saham, obligasi berbunga rendah serta aset berisiko lainnya ke emas dan yen.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh iMoneyNet, aset dana pasar uang yang kena pajak meningkat sebesar US$41,32 miliar menjadi US$2,95 triliun, sedangkan aset bebas pajak turun US$657,20 juta menjadi US$139,27 miliar.

Rata-rata yield iMoneyNet untuk dana bebas pajak turun menjadi 0,99 persen, atau terendah sejak akhir Januari dan dari minggu sebelumnya sebesar 1,23 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top