Seusai Pengumuman Hasil Rekapitulasi Pilpres, Rupiah Ditutup Terdepresiasi

Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (21/5/2019) seiring dengan pengumuman hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  17:46 WIB
Seusai Pengumuman Hasil Rekapitulasi Pilpres, Rupiah Ditutup Terdepresiasi
Karyawan menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (21/5/2019) seiring dengan pengumuman hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (21/5/2019) rupiah ditutup di level Rp14.480 per dolar AS, terdepresiasi 0,173% atau 25 poin melawan dolar AS. Secara year to date, rupiah telah melemah 0,62%.

Penutupan rupiah saat ini membuat rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di antara kelompok mata uang Asia. Adapun, KPU telah merampungkan proses rekapitulasi tingkat nasional. Hasilnya, pasangan calon presiden Jokowi-Amin unggul 85.607.362 suara atau 55,50% dari Prabowo-Sandi 68.650.239 atau 44,50%.

Namun, Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon presiden Prabowo-Sandi menolak hasil rekapitulasi tersebut dan akan menggugat hasil tersebut ke Mahkamah Konstitusi.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa penolakan hasil rekapitulasi oleh pasangan oposisi dapat menimbulkan kekhawatiran investor, terutama investor asing, sehingga akan mendorong mereka untuk kembali memegang dolar AS dan menjauh dari rupiah.

"Investor mungkin masih melihat situasi beberapa hari ke depan, bagaimana reaksi pihak Prabowo menanggapi pemilu," ujar Ariston kepada Bisnis, Selasa (21/5/2019).

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa fokus pasar lebih memperhatikan sentimen eskternal dibandingkan dengan sentimen penolakan hasil rekapitulasi pemilihan presiden 2019.

"Sebenarnya kondisi politik domestik cukup kondusif, isu pihak oposisi menolak itu sudah lama, hanya tanpa diduga mereka mengatakan akan menempuh jalur konstitusi sehingga sebenarnya itu hal yang baik," ujarnya.

Adapun, faktor eksternal yang lebih mempengaruhi pergerakan rupiah masih seputar perang dagang, kebijakan the Fed, dan kenaikan harga minyak di tengah ketegangan geopolitik Iran dan Arab Saudi.

Selain itu, David mengatakan bahwa pergerakan rupiah sepanjang kuartal II/2019 memang mengalami banyak tekanan akibat meningkatnya pembayaran utang dan dividen menjelang lebaran.

Baik David maupun Ariston memproyeksikan rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.400 per dolar AS hingga Rp14.500 per dolar AS pada perdagangan Rabu (22/5/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah, nilai tukar rupiah, depresiasi rupiah

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup