Akhir Sesi I, IHSG Lanjutkan Penguatan di Tengah Fluktuasi Bursa Asia

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,94 persen atau 55,58 poin ke level 5.962,42 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya, setelah dibuka dengan penguatan 0,31 persen atau 18,29 poin ke level 5.925,42.
Akhir Sesi I, IHSG Lanjutkan Penguatan di Tengah Fluktuasi Bursa Asia Aprianto Cahyo Nugroho | 21 Mei 2019 13:11 WIB
Akhir Sesi I, IHSG Lanjutkan Penguatan di Tengah Fluktuasi Bursa Asia
Karyawan berkomunikasi di dekat monitor informasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (11/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (21/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,94 persen atau 55,58 poin ke level 5.962,42 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya, setelah dibuka dengan penguatan 0,31 persen atau 18,29 poin ke level 5.925,42.

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, IHSG bergerak di level 5.925,42 – 5.996,54. Adapun perdagangan Senin (20/5), IHSG ditutup menguat 1,38 persen atau 80,25 poin ke level 5.907,12.

Seluruh sembilan sektor menetap di zona hijau, dipimpin sektor properti yang menguat 1,64 persen dan sektor aneka industri yang naik 1,58 persen.

Sebanyak 255 saham menguat, 125 saham melemah, dan 253 saham stagnan dari 633 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang masing-masing menguat 1,58 persen dan 1,53 persen menjadi penopang utama penguatan IHSG siang ini.

Sementara itu, bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Selasa karena investor mencerna langkah Washington terhadap Huawei Technologies Co. yang menenggelamkan saham teknologi AS semalam.

Saham China mencatat penguatan terbesar di Asia. Sementara bursa saham Jepang melemah dan bursa saham Hong Kong berfluktuasi. Sementara itu, Samsung Electronics Co. membantu meningkatkan bursa saham Korea, menyusul ekspektasi akan diuntungkannya perusahaan atas sanksi terhadap Huawei.

"Perusahaan-perusahaan China memiliki kesempatan untuk menebus kekurangan pasokan yang disebabkan oleh larangan AS terhadap Huawei," kata Sun Jianbo, presiden China Vision Capital Management, seperti dikutip Reuters.

“Rantai pasokan telekomunikasi global masih dapat bekerja dengan sempurna tanpa pemasok AS. China dan AS tidak mungkin membiarkan skenario terburuk, yang melibatkan larangan perdagangan di semua lini, karena itu akan berarti kerugian besar bagi kedua pihak. Jadi kemungkinan terburuk sudah diperkirakan,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top