Pertamina & PLN Belum Rilis Laporan Keuangan 2018, Ini Penjelasan Kementerian BUMN

Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyebut laporan keuangan 2018 PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang masih tertunda karena masih melalui proses audit dari Badan Pemeriksa Keuangan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  16:14 WIB
Pertamina & PLN Belum Rilis Laporan Keuangan 2018, Ini Penjelasan Kementerian BUMN
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) ke truk tangki di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (20/12/2018). - ANTARA/Didik Suhartono

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyebut laporan keuangan 2018 PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang masih tertunda karena masih melalui proses audit dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Edwin Hidayat Abdullah menjelaskan bahwa hanya laporan keuangan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pertamina saja yang agak tertunda. Hal itu terkait dengan audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk kepastian nilai subsidi dan tagihan lain pemerintah.

“Bukan BPK yang terlambat tetapi memang ada beberapa hal terkait belanja negara melalui BUMN perlu verifikasi BPK,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (21/5/2019).

Berdasarkan keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia, PLN menyampaikan surat otoritas pasar modal terkait penundaan penyampaian laporan keuangan periode 2018. Surat itu disampaikan perseroan pada 30 April 2019.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Perusahaan Listrik Negara Sarwono menyatakan optimistis  perseroan akan mencetak untung pada akhir 2018. Menurutnya, kerugian yang diderita pada kuartal III/2018 hanya merupakan rugi buku akibat selisih nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2018, PLN mengantongi penjualan tenaga listrik Rp194,40 triliun atau naik 6,93% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan penyambungan pelanggan naik 4,23% secara tahunan menjadi Rp5,21 triliun.

Dari situ, total pendapatan usaha perseroan setrum milik negara itu Rp200,91 triliun pada kuartal III/2018. Pencapaian itu naik 6,94% dari periode yang sama tahun lalu Rp187,88 triliun.

Di sisi lain, beban bahan bakar dan pelumas perseroan tercatat Rp101,87 triliun. Jumlah tersebut naik 19,46% dari Rp85,28 triliun pada kuartal III/2017. Selanjutnya, beban pembelian tenaga listrik juga mengalami kenaikan dari Rp53,54 triliun pada kuartal III/2017 menjadi Rp60,61 triliun pada 30 September 2018.

Secara keseluruhan, beban usaha PLN naik 11,83% secara tahunan pada kuartal III/2018. Tercatat, terjadi kenaikan dari Rp200,31 triliun pada kuartal III/2017 menjadi menjadi Rp224,00 triliun.

PLN tercatat membukukan rugi usaha sebelum subsidi Rp23,08 triliun pada kuartal III/2018. Nilai tersebut naik dari Rp12,42 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Laporan keuangan kuartal III/2018 PLN mencatat subsidi listrik pemerintah mencapai Rp39,77 triliun per 30 September 2018. Jumlah itu naik dari Rp36,19 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kerugian kurs mata uang asing bersih PLN meroket pada kuartal III/2018. Pasalnya, kerugian naik 677,25% dari Rp2,22 triliun pada kuartal III/2017 menjadi Rp17,32 triliun.

Dengan demikian, PLN tercatat membukukan rugi Rp18,48 triliun. Posisi tersebut melebar dari kuartal II/2018 dengan kerugian Rp5,36 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, pertamina, laporan keuangan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top