Kendati Melemah, BEI Masih Jadi Bursa Paling Aktif

Mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menilai, turunnya indeks pasar saham Indonesia yang terbesar dibandingkan negara lain di tengah-tengah aksi saling balas tarif antara AS dan China masih menyimpan optimisme.
Dwi Nicken Tari | 18 Mei 2019 13:07 WIB
Pengunjung menggunakan smartphone di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan saham di BEI, Jakarta, Rabu (20/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA--Mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menilai, turunnya indeks pasar saham Indonesia yang terbesar dibandingkan negara lain di tengah-tengah aksi saling balas tarif antara AS dan China masih menyimpan optimisme.

"Menariknya, BEI dengan 490.000 transaksi per hari masih paling aktif. Kalau dilihat 10 tahun terakhir, BEI masih bursa yang memberikan return terbesar, di luar NASDAQ [yang memberikan return terbesar untuk investor jangka panjang," tulis Tito, Sabtu (18/5/2019).

Tito menjelaskan, saat ini perhatian pelaku pasar dapat dirumuskan menggunakan 2E +/- P.

E yang pertama adalah ekonomi. Dari sisi ekonomi, defisit perdagangan yang terbesar sepanjang sejarah pada April 2019 senilai US$2,4 miliar terjadi saat AUM yang relatif kecil di pasar. Hal itu pun telah menjadi salah satu sentimen yang disoroti pelaku pasar selama pekan ini.

"Ketatnya portfolio dana pensiun dan asuransi, penarikan dana baik oleh investor ritel menuju lebaran atau penahanan dana oleh industri dan bahkan pemerintah sepertinya untuk persiapan THR ini menurunkan dana di bursa,"  kata Tito.

E yang kedua adalah emiten. Pertumbuhan laba sepanjang kuartal I/2019 yang relatif kecil atau hanya 6% bisa jadi tak mampu menahan pelemahan indeks. Tito menjelaskan, saat ini PER average BEI di sekitar 17%, masih relatif mahal dibanding tetangga.

"Tapi artinya pada PER yang sama, IHSG tahun-tahun kemarin bisa di level 6300-an karena growth-nya yg lebih baik." tulis Tito.

Selanjutnya P adalah persepsi, yang mana bisa dibentuk. Tito menyinggung, agak membingungkan membaca pernyataan dari menteri yang menyebut 'keadaan yang mengkhawatirkan'. Padahal, seharusnya pejabat negara harus 'poker face' dalam menilai situasi sekarang ini.

Di lain pihak, otoritas bursa pun diimbau untuk meningkatkan efisiensi informasi yang sesuai konsep dengan terus membentuk berita baik yang berdasarkan data, seperti aktifnya likuiditas, velocity ritel yang tinggi, jumlah investor domestik yang terus bertambah, peraturan baru yang kondusif, dan beroperasinya securities financing.

"Ini harus dilakukan dengan menemui langsung pelaku pasar.  Lalu balik ke pertanyaan dasar? IHSG menuju 5.500? Artinya rata-rata PER disekitar 15. Mahal atau murah? Tapi reaksi aktif otoritas mungkin diperlukan setidaknya untuk menahan yang mau kabur dari pasar," pungkas Tito.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa efek indonesia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup