IHSG Melemah, Rata-rata Volume Transaksi Harian BEI Tetap Naik

Di tengah-tengah pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini, ata-rata volume transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami kenaikan.
Dwi Nicken Tari | 18 Mei 2019 11:47 WIB
Pengunjung mengambil foto monitor perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (1/2/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah-tengah pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini, ata-rata volume transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami kenaikan.

Berdasarkan data mingguan BEI, rata-rata volume transaksi harian naik 1,43% menjadi 12,74 unit saham pada periode 13--17 April 2019, dari 12,56 unit saham pada pekan sebelumnya.

Pada periode yang sama, IHSG turun 6,16% ke level 5.826 dari posisi 6.209 pada pekan sebelumnya. Begitu pula nilai kapitalisasi pasar mengalami penurunan 6,15% menjadi Rp6.629,63 triliun pada akhir pekan ini dari Rp7.064,09 triliun pada penutupan akhir pekan lalu. 

Adapun, rata-rata nilai transaksi harian di pasar modal turun mengalami pelemahan sebesar 14,38% menjadi Rp7,74 triliun dari Rp9,04 triliun pada pekan sebelumnya. Untuk rata-rata frekuensi transaksi harian, selama sepekan terakhir mengalami perubahan sebesar 0,29% menjadi 408,03 ribu kali transaksi dari 409,21 ribu kali transaksi pada pekan lalu.

Dari sisi aliran modal masuk asing (foreign capital flow), sepanjang tahun berjalan, investor asing masih mencatatkan beli bersih sebesar Rp57,416 triliun. Namun, pada akhir pekan ini investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp789,29 miliar.

Suria Dharma, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia, menjelaskan beban terberat pergerakan IHSG masih berasal dari sentimen perang dagang AS—China yang mana menekan bursa saham tanah air lebih besar dibandingkan bursa lainnya di kawasan Asia Pasifik.

“Dari dalam negeri, neraca perdagangan yang paling buruk dalam sejarah membuat sentimennya tambah negatif. Tapi diawalinya [pelemahan] oleh perang dagang,” kata Suria kepada Bisnis, Jumat (17/5/2019).

Adapun beberapa sentimen yang diharapkan bisa menopang IHSG, seperti keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 6,00% dan rilis laporan keuangan emiten kuartal I/2019, dinilai Suria tak mampu menahan pelemahan IHSG.

“Semua tidak dilihat, fundamental bagus atau tidak orang tidak lihat. Jual dulu karena sentimennya [eksternal] negatif sekali. Tidak hanya Indonesia, di luar juga turun. Hanya saja di Indonesia lebih parah,” kata Suria.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri menambahkan, pelemahan pada akhir pekan ini juga tertekan akibat langkah AS yang memberikan sanksi kepada perusahaan telekomunikasi asal China, Huawei, yang direspons negatif oleh pasar secara global. 

Adapun pelemahan indeks di kawasan Asia Pasifik pada akhir pekan ini dipimpin oleh indeks Shanghai Composite yang turun 2,48%.

“China merespons dengan memberikan komentar tertulis, belum memberikan aksi balasan Tapi pelaku pasar melihat ini hanya jeda sebentar, mungkin nanti China akan balas. Makanya market hari ini [Jumat] melemah,” tutur Hans.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan menilai dalam kondisi sekarang ini pun sulit untuk mengajak investor untuk tidak mengurangi posisinya di pasar saham. Menurut Dennies, saat ini tentu investor lebih akan mencari instrumen investasi yang berisiko rendah.

Berikut Top Movers dan Top Laggards selama sepekan terakhr:

TOP MOVERS

Saham

Perubahan (%)

Kontribusi terhadap IHSG (%)

CLAY

1661,11

14,58

POLA

844,44

5,89

NATO

579,61

9,06

OCAP

388,37

0,87

COCO

364,65

0,70

 

 

TOP LAGGARDS

Saham

Perubahan (%)

Kontribusi terhadap IHSG (%)

MABA

-88,10

12,48

KIOS

-77,04

3,08

KPAS

-75,52

0,53

NUSA

-75,47

2,34

CSIS

-75,15

0,61

 

 

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup