Masih Ada Harapan Untuk IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan parkir di zona merah pada akhir perdagangan pekan ini akibat tergerusnya optimisme pelaku pasar melihat memburuknya hubungan dagang antara AS dan China. Namun, pengumuman hasil Pilpres dari KPU pekan depan diharapkan bisa memberikan sedikit tenaga kepada pergerakan indeks.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 18 Mei 2019  |  06:01 WIB
Masih Ada Harapan Untuk IHSG
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan parkir di zona merah pada akhir perdagangan pekan ini akibat tergerusnya optimisme pelaku pasar melihat memburuknya hubungan dagang antara AS dan China. Namun, pengumuman hasil Pilpres dari KPU pekan depan diharapkan bisa memberikan sedikit tenaga kepada pergerakan indeks.

Pada akhir perdagangan Jumat (17/5/2019), IHSG terkoreksi 1,17% ke level 5.826. Level tersebut merupakan terendah sejak November 2018.

Selama sepekan, IHSG tergerus 6,16% dan secara year-to-date melemah 5,93%.

Sepanjang hari perdagangan, investor asing kembali mencatatkan jual bersih (net sell) senilai Rp789,29 miliar. Sepekan tercatat net sell telah mencapai Rp3,63 triliun. Adapun secara year-to-date,investor asing masih mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp57,41 triliun yang termasuk di dalamnya transaksi skema crossing saham dari MUFG Bank Ltd. di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. senilai total Rp49,6 triliun. 

Sejumlah analis kompak menilai pelemahan IHSG selama 5 hari berturut-turut lebih disebabkan oleh sentimen negatif memanasnya tensi dagang antara Amerika Serikat dan China.

Tak hanya itu, data neraca perdagangan yang terburuk sejak Juli 2013 sebesar US$2,5 miliar pun kian memperkeruh suasana.

Suria Dharma, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia, menjelaskan beban terberat pergerakan IHSG masih berasal dari sentimen perang dagang AS—China yang mana menekan bursa saham tanah air lebih besar dibandingkan bursa lainnya di kawasan Asia Pasifik.

“Dari dalam negeri, neraca perdagangan yang paling buruk dalam sejarah membuat sentimennya tambah negatif. Tapi diawalinya [pelemahan] oleh perang dagang,” kata Suria kepada Bisnis, Jumat (17/5/2019).

Adapun beberapa sentimen yang diharapkan bisa menopang IHSG, seperti keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 6,00% dan rilis laporan keuangan emiten kuartal I/2019, dinilai Suria tak mampu menahan pelemahan IHSG.

“Semua tidak dilihat, fundamental bagus atau tidak orang tidak lihat. Jual dulu karena sentimennya [eksternal] negatif sekali. Tidak hanya Indonesia, di luar juga turun. Hanya saja di Indonesia lebih parah,” kata Suria.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri menambahkan, pelemahan pada akhir pekan ini juga tertekan akibat langkah AS yang memberikan sanksi kepada perusahaan telekomunikasi asal China, Huawei, yang direspons negatif oleh pasar secara global.

Adapun pelemahan indeks di kawasan Asia Pasifik pada akhir pekan ini dipimpin oleh indeks Shanghai Composite yang turun 2,48%.

“China merespons dengan memberikan komentar tertulis, belum memberikan aksi balasan Tapi pelaku pasar melihat ini hanya jeda sebentar, mungkin nanti China akan balas. Makanya market hari ini [Jumat] melemah,” tutur Hans.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan menilai dalam kondisi sekarang ini pun sulit untuk mengajak investor untuk tidak mengurangi posisinya di pasar saham. Menurut Dennies, saat ini tentu investor lebih akan mencari instrumen investasi yang berisiko rendah.

PROSPEK MENGUAT

Ke depannya, para analis sepakat pergerakan IHSG tidak akan banyak berubah alias masih dibayang-bayangi oleh sentimen global.

 

Dennies menilai potensi indeks untuk lanjut melemah masih ada meskipun pada level saat ini pelemahannya sudah cukup terbatas.

“Ada potensi untuk rebound [teknikal] dalam jangka pendek, 1—2 hari,” kata Dennies sambi menambahkan bahwa faktor fundamental belum ada yang bisa menopang indeks.

Senada, Hans juga melihat IHSG berpeluang rebound dengan harapan para pelaku pasar akan lebih berpikir realistis mengingat penurunan indeks telah terjadi terus-menerus sepanjang bulan ini. Adapun sejak awal bulan, baru dua kali indeks ditutup menguat.

“Nampaknya, [pekan depan] perang dagang masih akan menjadi perhatian pasar. Tapi kalau kita lihat, pasar berpeluang untuk rebound juga karena saya kira investor akan cenderung berpikir lebih realistis,” kata Hans.

Senada, Suria juga masih memperkirakan sentimen perang dagang AS—Chian masih akan berlanjut hingga pekan depan. 

Mengingat komentar kedua belah pihak yang menyampaikan belum akan bernegosiasi dalam waktu dekat, diperkirakan sentimen negatif ini masih akan berlangsung hingga pertemuan G20 pada akhir bulan depan di mana AS dan China diharapkan kembali bertemu.

“Selama perkiraan belum pasti ya investor cari aman dulu, cari aset safe haven seperti Treasury AS bertenor 10 tahun dan emas. Sementara itu kan keluar dulu [dari emerging market], nanti kalau sudah tidak apa-apa tinggal masuk lagi dan harganya sudah murah,” ujar Suria.

Namun demikian, Suria memperkirakan sentimen dari pengumuman KPU mengenai hasil Pilpres pada pekan depan dapat menjadi sentimen positif bagi peregrakan IHSG. 

Namun, berikutnya pasar saham Indonesia akan memasuki libur lebaran, yang diperkirakan Suria bakal kembali melesukan pasar. Pasalnya selama libur panjang, investor biasanya tidak mengambil posisi.

Sepakat dengan Suria, Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy juga menilai pengumuman KPU bisa membawa sedikit angin segar bagi IHSG.

“Kemarin sudah ada komitmen dari pemerintah dan TNI/Polri untuk menjaga keamanan pascapemilu dan menjelang penetapan pemenang Pemilu oleh KPU,” ujar Robertus.

Dirinya menilai, kendati masih jauh, pelantikan presiden dan parlemen terpilih nantinya pada Oktober juga diharapkan bisa menjadi penopang IHSG.

Robertus pun merekomendasikan buy on weakness untuk saham-saham bluechip seperti ASII, TLKM, UNVR, dan WIKA untuk dicermati para investor.

Sementara Suria merekomendasikan investor untuk dapat mencermati saham-saham dari sektor defensif, seperti sektor konsumer, rokok, dan perbankan seperti ICBP, GGRM, HMSP, BBRI, BBNI, BMRI, dan BBCA.

Begitu pula Dennies yang menilai saat ini secara keseluruhan sektoral belum ada yang menarik, investor dapat melirik sektor konsumer.

Hans merekomendasikan saham-saham sektor infrastruktur, konsumer, dan ritel karena diharapkan masih dapat menopang indeks.

Pada perkembangan terpisah, dalam laporan terbarunya, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memuji performa ekonomi Indonesia kendati sedang diterpa oleh beberapa sentimen negatif dari luar.

“Didukung oleh respons kebijakan yang tepat pada 2018, perekonomian Indonesia berperforma baik, kendati ada tekanan kuat dari eksternal. Outlook-nya positif kendati risiko mulai terlihat,” tulis Luis Breuer Mission, Chief for Indonesia dari IMF.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, prediksi ihsg

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top