Metropolitan Land (MTLA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10 Persen  

PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) memproyeksikan penjualan properti baru mulai membaik pada Agustus 2019 setelah melewati masa politik dan lebaran. Emiten berkode saham MLTA tersebut hanya mebidik pertumbuhan pendapatan sebesar 10% tahun ini.
Anitana Widya Puspa | 17 Mei 2019 17:38 WIB
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) memproyeksikan penjualan properti baru mulai membaik pada Agustus 2019 setelah melewati masa politik dan lebaran. Emiten berkode saham MLTA tersebut hanya mebidik pertumbuhan pendapatan sebesar 10% tahun ini.

Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk. Thomas J. Angfendy mengatakan, perseroan optimistis masih bisa mencapai pertumbuhan tahun ini kendati tidak akan sebaik tahun lalu. Dia mengatakan pertumbuhan penjualan properti yang melambat pada awal tahun ini dirasakan oleh seluruh pengembang properti lantaran momen lebaran yang berdekatan dengan pilpres.

“Tahun ini hanya sekitar 10%-11% untuk pendapatan dan kami juga akan menjual banyak lot komersial yang akan difinalisasi tahun ini,” jelasnya usai RUPST dan RUPSLB Jumat (17/5/2019).

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Metropolitan Land Tbk. Olivia Surodjo menambahkan bahwa tahun ini target pendapatan dipatok senilai Rp2,2 triliun. Dia memerinci Rp1,7 triliun di antaranya akan diperoleh dari prapenjualan dan sisanya Rp500 miliar dari proyek pendapatan berulang dari hotel dan pusat perbelanjaan.

Olivia juga menyebuutkan bahwa setelah berlangsungnya pemilu dan lebaran, pasar properti tidak secara otomatis akan membaik. Perusahaan memperkirakan baru bisa mengejar target dimulai pada Agustus hingga akhir tahun ini.

Pasalnya, pengumuman pemenang pilpres baru akan terjadi pada Mei yang dilanjutkan masa Lebaran pada Juni. Secara historis, penjualan properti pada masa pemilu selalu melemah dengan fokus masyarakat kepada tingkat konsumsi.

“Kalau dibilang market signifikan bagus nggak juga tapi akan lebih baik dari jauh dari sekarang [Kuartal I/2019--II/2019),” tekannya.

MTLA menganggarkan belanja modal tahun ini senilai Rp700 miliar. Perinciannya Rp200 miliar untuk akusisi lahan dan Rp500 miliar untuk pengembangan proyek-proye exsisting seperti Venya Ubud di Blai dan apartemen Kaliyana, sisanya  pembangunan infrastruktur di proyek exsisting.

Sepanjang kuartal I/2019, serapan belanja modal baru MTLA baru mencapai Rp115 miliar karena proyek konstruksi tengah dijalankan dan kemungkinan selesai pada akhir tahun ini, sehingga alokasi capex baru bisa efektif pada kuartal akhir tahun ini.

Adapun dalam RUPST dan RUPSLB, MTLA menyetujui untuk membagikan Rp7,65 milar atau 15% dari laba bersih tahun buku 2018 sebagai dividen tunai setara Rp9,4 per lembar saham. Selain itu dana senilai Rp2 miliar akan digunakan sebagai laba ditahan untuk menambah modal kerja perseroan.

Laba bersih perusahaan pada 2018 tumbuh 6,65% atau tercatat senilai Rp482 miliar. Pendapatan pada 2018 tercatat senilai Rp1,4 triliun meningkat 9,12% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp1,3 triliun. Peningkatan pendapatan properti didukung oleh penjualan properti senilai Rp868,4 miliar, tumbuh 112,42% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Semua proyek MTLA memberikan kontribusi  dengan 63% di antaranya berasal dari residensial dan strata title, 25% dari pendapatan sewa pusat perbelanjaan, 9% dari pengoperasian hotel, sisanya 3% dari pengoperasian rekreasi.

Sepanjang kuartal I/2018 mencatatkan penjualan senilai Rp258 miliar, terdiri atas Rp134 miliar dari marketing sales dan Rp123 miliar dari pendapatan berkelanjutan, serta laba bersih Rp79 miliar.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, metropolitan land

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup