Harga Sawit Menguat, Terdorong Naiknya Permintaan

Harga minyak kelapa sawit berjangka bergerak menguat pada perdagangan Kamis (16/5/2019), ditopang oleh permintaan yang lebih baik untuk minyak nabati tersebut.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 16 Mei 2019  |  16:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit berjangka bergerak menguat pada perdagangan Kamis (16/5/2019), ditopang oleh permintaan yang lebih baik untuk minyak nabati tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 14:50 WIB, harga minyak kelapa sawit (crude palm oil) kontrak Juli di Bursa Derivatif Malaysia menguat 1,72% atau 35,00 poin ke level 2.064 ringgit per ton.

Capaian itu melanjutkan penguatan pada sesi pembukaaan sebesar 0,05% atau 1,00 poin ke level 2.030 ringgit per ton. Harga sawit pun sudah menguat selama 3 hari berturut-turut.

Selain itu, harga bahan baku minyak goreng ini juga sempat menyentuh 2.075 ringgit per ton, level terkuat sejak 2 Mei lalu. Selama sepekan ini, harga sawit naik 4,5%. Sementara sejak awal tahun harga komoditas unggulan Indonesia ini telah menguat 1,70%.

“Pasar sawit didukung oleh kelanjutan ekspor yang baik,” kata seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/5/2019).

Trader tersebut mengacu pada data survei kargo, Rabu (15/5/2019). Data tiga survei kargo, yaitu Amspec Agri Malaysia, Intertek Testing Services, dan Societe Generale de Surveillance menunjukkan, pengapalan minyak sawit Malaysia tumbuh antara 4% dan 15% selama 1-15 Mei dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Trader lain mengatakan, harga kelapa sawit juga ditopang oleh keuntungan yang berkelanjutan dalam minyak nabati lainnya. Kontrak minyak kedelai Chicago Juli telah naik 0,9%, Rabu (15/5/2019), dan naik 0,4% pada Kamis (16/5/2019). Hal itu setelah Presiden AS Donald Trump meredakan kekhawatiran atas perang tarif AS dan China.

Untuk diketahui, harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan minyak kedelai. Keduanya bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar global.

Analis Pasar Reuters untuk komoditas Wang Tao mengatakan, harga minyak sawit kemungkinan naik menjadi 2.091 ringgit per ton, karena telah menghilangkan resistensi di level 2.034 ringgit per ton.

Sementara itu, persediaan sawit di Indonesia di luar perkiraan jatuh pada bulan lalu dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi karena pengiriman yang tinggi ke Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia.

Mengutip dari Bloomberg, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Indonesian Palm Oil Association) menunjukkan, persediaan sawit di Indonesia turun 2,8% menjadi 2,43 juta ton pada Maret tahun ini, dari bulan sebelumnya.

Data tersebut tak jauh berbeda dengan media 2,53 juta ton dalam survei Bloomberg yang diterbitkan bulan lalu. Cadangan data dari produsen utama sawit dunia itu semakin mendorong harga sawit menguat, yang juga mendapat dukungan dari ekspor Malaysia. Di samping itu, harga minyak bumi yang lebih kuat seringkali membuat kelapa sawit lebih menarik untuk dicampur menjadi biofuel. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit, harga cpo

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top