Sentimen Perang Dagang Mereda, Rupiah Masih Berakhir di Zona Merah

Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (15/5/2019) di tengah meredanya perang dagang antara AS dan China, masih menjadi mata uang terlemah kedua di antara mata uang Asia.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  17:18 WIB
Sentimen Perang Dagang Mereda, Rupiah Masih Berakhir di Zona Merah
Warga menunjukkan uang rupiah pecahan kecil di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/5/2019). - ANTARA/Abriawan Abhe

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (15/5/2019) di tengah meredanya perang dagang antara AS dan China, masih menjadi mata uang terlemah kedua di antara mata uang Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (15/5/2019), rupiah melanjutkan pelemahan sepanjang 3 hari berturut-turut pada level Rp14.463 per dolar AS terdepresiasi 0,201% atau 29 poin di saat mayoritas mata uang Asia bergerak di zona hijau.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa perkembangan yang positif terkait perang dagang AS-China membuat dolar AS perkasa dan menjadi incaran investor.

"Setelah seringkali mengeluarkan pernyataan yang keras terhadap China, belakangan justru Presiden AS Donald Trump nampak melunak," ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Rabu (5/5/2019).

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perang dagang AS dengan China hanya merupakan pertengkaran kecil dan bersikeras bahwa negosiasi antara 2 negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut belum putus.

Pun, dari pihak China melontarkan hal yang positif. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengatakan bahwa AS dan China telah setuju untuk terus mengusahakan negosiasi perdagangan.

Kemudian, akibat perang tarif yang kembali terjadi Donald Trump meminta Federal Reserve untuk mencocokkan setiap stimulus yang disediakan oleh China untuk mengimbangi kerusakan ekonomi dari tarif barunya.

Namun, Presiden The Fed untuk Kansas City Esther George memperingatkan bahwa suku bunga yang lebih rendah dapat memicu gelembung harga aset, menciptakan ketidakseimbangan keuangan, dan akhirnya akan terjadi resesi.

"Hal tersebut akan menempatkan tanggung jawab atas risiko apa pun pada ekonomi AS di ketidakpastian kebijakan perdagangan dan pertumbuhan yang lebih lambat di luar negeri, terutama di China, kawasan euro, dan Inggris," ujar Esther seperti dikutip dari Reuters.

Kemudian, katalis negatif yang membebani penguatan rupiah adalah laporan nerca perdagangan Indonesia menimbulkan kekhawatiran pasar bahwa transaksi berjalan Indonesia yang menjadi fondasi pergerakan rupiah akan semakin melebar, sehingga rupiah menjadi kehilangan pijakan untuk menguat.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar, terbesar sejak Juli 2013.

Ibrahim memprediksi rupiah akan diperdagangkan pada Kamis (16/5/2019) di level Rp14.400 per dolar AS hingga Rp14.480 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top