Defisit Neraca Dagang & Perang AS-China Bikin IHSG Anjlok ke Level 5.900-an

Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ke level 5.000 pada akhir perdagangan Rabu (15/5/2019). Adapun pasar merespons negatif data neraca perdagangan yang memburuk pada April 2019 di tengah-tengah memanasnya isu perang dagang AS-China.
Dwi Nicken Tari | 15 Mei 2019 19:06 WIB
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ke level 5.000 pada akhir perdagangan Rabu (15/5/2019). Adapun pasar merespons negatif data neraca perdagangan yang memburuk pada April 2019 di tengah memanasnya isu perang dagang AS-China.

Pada penutupan perdagangan Rabu (15/5/2019), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 1,49% ke level 5.980. Secara ytd, indeks turun 3,45%.

Janson Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas mengatakan bahwa pelemahan IHSG kali ini disebabkan oleh kombinasi tekanan eksternal berupa eskalasi tensi dagang AS--China dan data dari domestik yaitu neraca perdagangan yang tak memuaskan.

"Neraca perdagangan kita defisit luar biasa sekali, sebesar US$2,5 miliar. Sepertinya terparah secara historis," kata Janson kepada Bisnis.com, Rabu (15/5/2019).

Dirinya menjelaskan, permasalahan neraca perdagangan terletak pada tingkat ekspor yang turun lebih dalam kendati impor dapat berkurang. 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar atau defisit terbesar sejak Juli 2013.

Adapun defisit tersebut disebabkan oleh posisi neraca ekspor yang tercatat senilai US$12,60 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor yang mencapai US$15,10 miliar. "Dengan adanya perang dagang, permintaan komoditas akan melemah. Karena konsekuensi perang dagang adalah pelemahan PDB," imbuh Janson.

Adapun dengan price-to-book-value ratio (PBV) saat penutupan pasar sebesar 2,1 kali atau termurah sejak 2014, Janson merekomendasikan ASII, BBNI, BBRI, HMSP, ICBP, TLKM, dan saham-saham sektor konstruksi untuk dicermati apabila IHSG terus menyusut hingga 5.950.

Senada, analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menyampaikan data defisit neraca perdagangan tersebut telah mengurangi optimisme pasar yang sempat merespon positif meredanya sentimen perang dagang AS--China.

"Padahal sebelumnya, IHSG mengalami penguatan karena merespon positif dari meredanya sentimen perang dagang antara AS dengan China," ujar Nafan.

Untuk besok, Nafan merekomendasikan saham-saham infrastruktur, tambang, konsumer, dan keuangan seperti BBCA, BBTN, ELSA, KLBF, MEDC, dan WSBP untuk dicermati.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Neraca Perdagangan, Indeks BEI, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top