2019, Barito Pacific (BRPT) Anggarkan Belanja Modal hingga US$560 Juta

PT Barito Pacific Tbk. menganggarkan belanja modal hingga US$560 juta pada 2019 untuk mendanai ekspansi perseroan di bidang petrokimia dan energi.
M. Nurhadi Pratomo | 15 Mei 2019 15:08 WIB
Direksi Barito Pacific berfoto usai rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, JAKARTA — PT Barito Pacific Tbk. menganggarkan belanja modal hingga US$560 juta pada 2019 untuk mendanai ekspansi perseroan di bidang petrokimia dan energi.

Direktur Independen Barito Pacific David Kosasih menjelaskan bahwa anggaran belanja modal untuk bisnis petrokimia senilai US$460 juta. Selanjutnya, alokasi untuk sektor energi sekitar US$80 juta hingga US$100 juta.

Lebih lanjut, David menuturkan perseroan akan menyelesaikan beberapa proyek ekspansi di lini bisnis petrokimia. Menurutnya, satu pabrik polypropylene dengan skala cukup besar akan selesai tahun ini.

Fasilitas itu menurutnya akan memiliki kapasitas produksi 400.000 ton per tahun. Dalam ekspansi itu, perseroan tidak menggandeng mitra lain. “Total investasi [pabrik polypropylene] US$350 juta sampai US$400 juta,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Untuk bidang energi, investasi dilakukan untuk program drilling atau pengeboran. Pihaknya menyebut investasi itu rutin dilakukan setiap tahun.

Di sisi lain, David menyebut perseroan juga memiliki rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 dan Jawa 10. Fasilitas itu akan memiliki kapasitas 2x1.00 megawatt (MW).

Adapun, penyelesaian pembiayaan atau financial close proyek itu ditargetkan pada akhir 2019 atau kuartal I/2020. Sebagai catatan, Barito Pacific lewat entitas anak PT Barito Wahana Lestari dan anak usaha PT Indonesia Power, yakni PT Putra Indotenaga telah membentuk usaha patungan PT Indo Raya Tenaga untuk menggarap PLTU Jawa 9 dan Jawa 10. Komposisi kepemilikan yakni 49:51.

Emiten berkode saham BRPT itu saat ini menjalankan lini bisnis petrokimia melalui entitas anak PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA). Sementara itu, bisnis listrik panas bumi dijalankan melalui Star Energy.

Chandra Asri Petrochemical berkontribusi US$2,54 miliar terhadap total pendapatan Barito Pacific US$3,07 miliar pada 2018. Dari situ, earnings before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) yang dihasilkan sekitar US$413 juta.

Selanjutnya, Star Energy menghasilkan atau berkontribusi terhadap total pendapatan senilai US$522 juta. Dari situ, SEG mampu berkontribusi sekitar US$400 juta terhadap total EBITDA perseroan US$813 pada 2018.

BRPT mencaplok Star Energy 66,67% saham Star Energy pada 2018. Entitas itu diklaim sebagai produsen panas bumi terbesar ketiga di dunia.

Pada 2018, perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan bersih secara konsolidasian sebesar 7,8% secara tahunan menjadi US$3,07 miliar. Secara detail, pendapatan bersih dari bisnis petrokimia masih tumbuh 5,1% dari US$2,41 miliar pada 2017 menjadi US$2,54 miliar pada 2018.

Pertumbuhan kontribusi bisnis petrokimia terutama disebabkan oleh realisasi harga penjualan rata-rata yang lebih tinggi, khususnya dari penjualan ethylene, polyethylene, dan polypropylene.

Adapun, pendapatan dari bisnis panas bumi meningkat 23,4% menjadi US$522 juta yang dihasilkan dari pendapatan Aset Salak dan Darajat yang diakuisisi oleh SEG dari dari Chevron pada Maret 2017.

Di sisi lain, terjadi kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 15,1% dari US$1,97 miliar menjadi US$2,27 miliar pada 2018. Peningkatan itu terutama disebabkan oleh biaya rata-rata naptha yang meningkat sekitar 30% dari US$500 per ton pada 2017 menjadi US$650 per ton pada 2018.

Beban keuangan perseroan juga tercatat naik 33,3% dari US$156 juta pada 2017 menjadi US$208 juta pada 2018. Manajemen BRPT menyebut kondisi itu terutama disebabkan oleh dampak setahun penuh dari penerbitan 4,95% senior unsecured noted TPIA senilai US$300 juta jatuh tempo pada 2024, penerbitan obligasi TPIA Rp1,5 triliun atau sekitar US$102,3 juta, dan dampak setahun penuh dari pinjaman berjangka untuk akuisisi aset Salak dan Darajat pada Maret 2017.

Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu mengatakan net debt to earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) perseroan belum mencapai 2 kali. Dengan demikian, level tersebut dinilai masih wajar. “Kalau debt to EBITDA mungkin 3 kali tetapi kami punya cash juga. Jadi yang kami perhatikan net debt to EBITDA,” paparnya.

Dia mengatakan perseroan belum memiliki rencana baik refinancing maupun fund raising. Akan tetapi, pihaknya tetap memantau apabila terdapat kemungkinan dana dengan bunga yang lebih murah.

“Belum ada rencana [fund raising], kami ada road show itu program biasalah yang kami jalankan,” imbuhnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, barito pacific

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup