Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ketegangan AS-China Memanas, Harga Minyak Mentah Lesu

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni ditutup melemah 0,62 poin atau 1 persen ke level US$61,04 di New York Mercantile Exchange pada penutupan perdagangan Senin (13/5/2019).
West Texas Intermediate/Reuters
West Texas Intermediate/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melemah pada hari ketiga berturut-turut karena meningkatnya ketegangan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia, sehingga meredupkan prospek permintaan.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Juni ditutup melemah 0,62 poin atau 1 persen ke level US$61,04 di New York Mercantile Exchange pada penutupan perdagangan Senin (13/5/2019).

Sementara itu, Minyak mentah Brent untuk kontrak Juli ditutup melemah 0,39 poin ke level US$70,23 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London.

Dilansir Bloomberg, China mengumumkan kenaikan tarif pada sejumlah barang impor asal AS pada Senin, menanggapi kenaikan tarif dijanjikan oleh pemerintahan Trump setelah pembicaraan berakhir pada hari Jumat tanpa kesepakatan.

Sikap China tersebut menghapus penguatan sebelumnya setelah Arab Saudi mengatakan tanker minyaknya disabotase dekat Teluk Persia pada hari Minggu (12/5).

"Ini kekhawatiran terkait dengan perdagangan. Sebagian besar permintaan tambahan yang kami harapkan di pasar minyak seharusnya berasal dari negara emerging market," kata Stewart Glickman, analis energi di CFRA Research Inc, seperti dikutip Bloomberg.

China mengumumkan tarif baru sebesar 25 persen untuk hampir 2.500 produk asal AS, termasuk pengiriman gas alam cair. Pasar memulihkan sebagian pelemahan mereka setelah Presiden Donald Trump mengindikasikan dia akan berbicara dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir Juni selama KTT G-20.

Trump mengatakan dia belum memutuskan apakah akan menindak lanjuti ancaman pengenaan tarif impor lebih lanjut terhadap barang asal China yang bernilai US$300 miliar.

Minyak mentah tidak ada dalam daftar tarif China, tetapi aliran kargo AS ke China telah diperketat. China mengimpor 1,64 juta barel minyak AS dalam enam bulan hingga Maret, turun dari 60,5 juta barel dalam enam bulan sebelumnya.

Kekhawatiran tentang permintaan mengalahkan kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah akan memanas setelah Saudi mengatakan dua dari kapal tanker mereka rusak dalam "serangan sabotase."

Sementara itu, Uni Emirat Arab mengatakan sebuah kapal tanker milik mereka dan kapal Norwegia juga menjadi target di pelabuhan Fujairah, UEA.

Namun, detil dari insiden ini masih belum diungkapkan, baik Saudi atau UEA tidak mengatakan dengan jelas apa yang terjadi atau mengidentifikasi pelaku. AS mengerahkan kapal induk, pesawat pembom, dan rudal pertahanan ke wilayah itu pekan lalu di tengah semakin buruknya pertikaian dengan Iran.

“Ini semua tentang ketidakpastian; apakah itu rumor yang berdasar atau tidak, pasar tidak menyukainya," kata Scott Bauer, chief executive officer Prosper Trading academy di Chicago.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper