Ringkasan Perdagangan 9 Mei: IHSG, Rupiah Terseret Panasnya Perang Dagang AS-China

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), di tengah memanasnya perang perdagangan AS dan China.
Renat Sofie Andriani | 09 Mei 2019 20:07 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahannya bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), di tengah memanasnya perang perdagangan AS dan China.

Sementara itu, bursa emerging market (pasar negara berkembang) merosot ke level terendahnya dalam dua bulan, sejalan dengan pelemahan mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, harga emas Comex, yang bersifat sebagai aset safe haven, diuntungkan oleh aksi penghindaran risiko oleh para pelaku pasar yang dipicu kekhawatiran sentimen tersebut.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com hari ini, Kamis (9/5/2019):

IHSG Terjungkal dari Level 6.200, Apa Saja Saham Penekannya?

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut hingga terjungkal ke kisaran level 6.190 pada akhir perdagangan hari ini, level penutupan terendah sejak 2 Januari.

Delapan dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin industri dasar (-2,93 persen) dan aneka industri (-2,54 persen). Hanya sektor barang konsumsi yang mampu mengakhiri pergerakannya di zona hijau yakni dengan kenaikan 0,61 persen.

Dari 631 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 119 saham menguat, 304 saham melemah, dan 208 saham stagnan.

Perang Dagang Masih Membebani Rupiah

Kekhawatiran investor terhadap ekskalasi perang dagang AS dan China masih membebani pergerakan rupiah sehingga mata uang garuda kembali ditutup melemah.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa sentimen utama pelemahan rupiah masih disebabkan oleh sengketa perdagangan yang kembali memanas oleh AS dan China. 

Selain itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa cadangan devisa Indonesia yang menurun juga menjadi katalis negatif rupiah. Bank Indonesia melaporkan, cadangan devisa April sebesar US$124,3 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu sebesar US$124,5miliar.

Aksi Jual Bersih oleh Investor Asing Tembus Rp1 Triliun

Investor asing membukukan aksi beli sekitar 1,04 miliar lembar saham senilai Rp2,93 triliun. Adapun aksi jual oleh investor asing tercatat 1,46 miliar lembar saham senilai sekitar Rp4,41 triliun.

Total nilai transaksi yang terjadi di lantai bursa hari ini mencapai sekitar Rp9,46 triliun dengan volume perdagangan tercatat sekitar 12,18 miliar lembar saham.

Ancaman Perang Dagang AS-China Tumbuh, Emerging Market Tertekan

Bursa saham emerging market (pasar negara berkembang) merosot ke level terendahnya dalam dua bulan, seiring dengan menyurutnya harapan untuk kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks MSCI untuk saham-saham emerging market turun hampir 2 persen, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan China "melanggar kesepakatan" yang telah dikompromikan dalam perundingan perdagangan dengan AS selama ini.

Harga Emas Comex Naik

Harga emas Comex untuk kontrak Juni 2019 terpantau naik 1,60 poin atau 0,12 persen ke level US$1.283 per troy ounce pukul 19.05 WIB. Sepanjang perdagangan hari ini, harga emas bergerak di level 1.280,40-1.286,40.

Sebaliknya, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta turun Rp3.500 menjadi Rp662.000 per gram, sedangkan harga pembelian kembali atau buyback emas Antam turun Rp2.000 menjadi Rp589.000 per gram.

Digempur Yen, Harga Karet Anjlok Lebih dari 2 Persen

Penguatan nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menekan harga karet di bursa Tocom Jepang hingga anjlok lebih dari 2 persen pada akhir perdagangan hari ini.

Yen, yang bersifat sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran global, bergerak menuju apresiasi hari kelima berturut-turut di tengah keresahan pasar soal eskalasi konflik perdagangan Amerika Serikat-China.

Penguatan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang ini menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli luar negeri. Dampaknya, permintaan akan komoditas ini dapat tergerus.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, dolar as, perang dagang AS vs China

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup