Kinerja Indeks Reksa Dana Saham Kian Tertekan

Kinerja reksa dana saham saham tergerus kian dalam di zona merah sepanjang tahun berjalan per 3 Mei 2019 akibat anjloknya pasar saham.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  12:56 WIB
Kinerja Indeks Reksa Dana Saham Kian Tertekan
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019)./ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja reksa dana saham saham tergerus kian dalam di zona merah sepanjang tahun berjalan per 3 Mei 2019 akibat anjloknya pasar saham.

Berdasarkan data Infovesta Utama, indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index tercatat berada di area negatif sebesar -1,93% secara year-to-date per 3 Mei 2019. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menjadi acuannya masih tumbuh 2,02%.

Selanjutnya, indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat 2,60% atau masih inline dengan kinerja indeks acuannya yang sebesar 2,66%. Begitu pula kinerja indeks reksa dana pasar uang yang tercermin dalam Infovesta Morney Market Fund Index tercatat stabil 1,78%.

Sementara itu, kinerja indeks reksa dana campuran yang tercermin dalam Infovesta Balanced Fund Index tercatat 1,70%. Secara mingguan, indeks reksa dana pasar uang tampil di zona hijau sendiri dengan kinerja sebesar 0,09%.

Ketiga indeks reksa dana lainnya tercatat berada di zona merah, yaitu indeks reksa dana pendapatan tetap sebesar -0,46% dan indeks reksa dana campuran tercatat -1,12%. Adapun posisi terbawah kembali ditempati oleh indeks reksa dana saham sebesar -1,39%. Pada periode yang sama, IHSG tergerus -1,28%.

Infovesta mencatat, anjloknya pasar saham pada pekan lalu menjadi penyebab turunnya imbal hasil reksa dana saham dan campuran. Begitu pula kinerja buruk dari indeks obligasi pemerintah turut menjadi penekan indeks reksa dana pendapatan tetap.

Adapun periode April—November memang diantisipasi oleh investor sebagai periode mendapatkan imbal hasil yang lebih rendah ketimbang periode Oktober—Mei.

Istilah Sell in May and Go Away tersebut ternyata tampaknya berlaku pula di pasar modal Indonesia, kendati tidak menutup kemungkinan bisa saja kondisi terjadi sebaliknya seiring dengan perkembangan yang ada di tahun tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, manajer investasi, reksa dana

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top