Tertekan Sentimen Eksternal, Sinyal Positif dari BI Tak Mampu Kuatkan Rupiah

Rupiah berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (25/4/2019). Mata uang garuda ini berada di posisi runner-up di antara mata uang Asia yang melemah.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 25 April 2019  |  16:57 WIB
Tertekan Sentimen Eksternal, Sinyal Positif dari BI Tak Mampu Kuatkan Rupiah
Karyawan menata uang untuk pengisian ATM, di Cash Center PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Jakarta, Kamis (20/12/2018). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (25/4/2019). Mata uang garuda ini berada di posisi runner-up di antara mata uang Asia yang melemah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,57% atau 81 poin ke level Rp14.186 per dolar Amerika Serikat. Di antara sejumlah mata uang Asia, Rupiah berada di posisi kedua terlemah, setelah Won Korea yang terdepresiasi 0,85%. Sementara itu, di posisi ketiga ditempati oleh mata uang rupee yang melemah 0,40%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa rapat dewan gubernur Bank Indonesia merupakan sinyal positif bagi rupiah. “Tetapi, tekanan eksternal terlalu kuat,” katanya, Kamis (25/5/2019).

Bank Indonesia memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan ini ditetapkan dengan melihat semua data-data terkait dengan inflasi, pertumbuhan ekonomi dan sistem keuangan di dalam negeri serta perkembangan global.

Keputusan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomina khsusunya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik," tegas Perry dalam paparannya, Kamis (25/04/2019).

Keputusan BI tersebut sejalan dengan proyeksi ekonom dan pasar yang memperkirakan suku bunga acuan bank sentral akan tetap berada di level 6%. Di sisi lain, melambatnya pertumbuhan PDB Korea Selatan pada kuartal I/2019 diperkirakan juga menambahkan tekanan pada rupiah.

Asia Trade Point Futures dalam catatannya, menyebut bahwa faktor eksternal seperti seperti melambatnya pertumbuhan PDB Korea Selatan kuartal I/2019 dan penantian pasar pada perundingan dagang AS-China pekan depan, membawa investor kembali berburu dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Tercatat, PDB Korea Selatan untuk kuartal pertama tahun ini hanya tumbuh 1,8%, di bawah ekspetasi pasar dan menjadi laju terlemah sejak kuartal III/2009.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, Rupiah

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top