Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Alasan Permintaan Instrumen Surat Utang Korporasi Akan Lebih Marak

Meredanya ketidakpastian global dan domestik akan meningkatkan optimisme emiten dan investor untuk menerbitkan dan menyerap instrumen surat utang berperingkat lebih rendah serta bertenor lebih panjang pada sisa tahun ini.
Ilustrasi/www.hennionandwalsh.com
Ilustrasi/www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Meredanya ketidakpastian global dan domestik akan meningkatkan optimisme emiten dan investor untuk menerbitkan dan menyerap instrumen surat utang berperingkat lebih rendah serta bertenor lebih panjang pada sisa tahun ini.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), realisasi emisi surat utang korporasi sepanjang kuartal pertama 2019 mencapai Rp25,5 triliun. Nilai itu terdiri atas penerbitan obligasi korporasi senilai Rp22,5 triliun dan penerbitan medium term notes (MTN) Rp3 triliun.

Menariknya, mayoritas penerbitan surat utang korporasi sepanjang kuartal I/2019 didominasi oleh peringkat sangat tinggi idAAA, yakni sebanyak 74,6% dari total emisi. Ini berbeda dibandingkan realisasi sepanjang 2014-2018 yang mana peringkat idAAA hanya sekitar 44% - 63% dari total emisi.

Selain berperingkat tinggi, surat utang korporasi yang terbit di kuartal pertama tahun ini juga didominasi oleh tenor pendek. Instrumen bertenor 1 tahun atau instrumen pasar uang mencapai 27,8%, lebih tinggi dibandingkan realisasi 2014-2018 yang selalu di bawah 20% dari total emisi.

Instrumen bertenor 3 tahun juga sangat tinggi, mencakup 45% dari total emisi pada kuartal I/2019. Ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi persentase emisi tenor ini sepanjang 2014-2018 yang selalu di bawah 40%.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa tren unik pada awal tahun ini disebabkan karena tingginya ketidakpastian pasar sehingga emiten dan investor memilih instrumen yang paling rendah risikonya, yakni tenor pendek dan berperingkat tinggi.

Ramdhan mengatakan, sepanjang kuartal pertama tahun ini, instrumen pasar uang atau deposito dan surat utang bertenor 1 tahun ke bawah banyak dicari pelaku pasar. Hal ini menjadi alasan di balik banyaknya emisi tenor tersebut tahun ini.

Investor cenderung sangat selektif pada awal tahun ini karena adanya ketidakpastian global terkait kebijakan suku bunga The Fed, perang dagang, dan Brexit, serta ketidakpastian domestik akibat pemilu.

Oleh karena itu, sulit bagi emiten yang memiliki peringkat rendah untuk bisa memenangkan pasar sehingga emisi didominasi peringkat tinggi.

“Pasar sangat selektif di awal tahun ini. Mereka lebih memilih selain yang pendek, tetapi juga yang good name, punya rating dan record bagus. Issuer juga berpikir berkali-kali sebelum terbitkan instrumen karena yang peringkat rendah cost-nya juga agak tinggi di awal tahun ini,” katanya, Selasa (23/4/2019).

Berdasarkan data Pefindo, rata-rata kupon instrumen surat utang pada kuartal pertama tahun ini meningkat signifikan dibandingkan rata-rata 2018.

Sebagai contoh, untuk tenor 3 tahun, kupon instrumen berperingkat layak investasi yakni idAAA hingga idBBB berkisar antara 8,78% - 11,15%. Padahal, pada 2018 lalu, rata-rata kupon untuk tenor dan peringkat yang sama berkisar antara 7,68% - 10,63%.

Namun, kini kondisi ketidakpastian global dan domestik ini mulai mereda setelah pendirian dovish The Fed makin jelas dan pemilu dalam negeri berakhir.

Ramdhan mengatakan, yield surat utang negara (SUN) pada April 2019 juga makin rendah, sehingga pelan-pelan kupon insturmen baru surat utang korporasi akan turun pula.

Di samping itu, investor juga sudah cukup lama menahan diri, sehingga kini mereka membutuhkan instrumen baru yang lebih variatif, terutama yang tenor lebih panjang dan peringkat lebih rendah. Pasalnya, tenor yang lebih panjang atau peringkat yang lebih rendah memberikan imbal hasil yang lebih tinggi.

“Pasar akan mulai mencari insturmen yang lebih variatif karena mereka perlu melakukan kombinasi agar mendapatkan return yang optimal. Mereka tidak bisa berpatok harus berperingkat idAAA atau tenor pendek melulu, karena yield-nya terbatas,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper