Rekomendasi Saham : Kalbe Farma (KLBF) Menuju Rp1.760, Bagaimana Prospeknya ke Depan?

Saham PT Kalbe Farma Tbk. dapat tetap menjadi pilihan menarik bagi investor usai pemilu, sebab strategi bisnisnya yang defensif cukup mampu menjaga kinerja perseroan tetap positif sepanjang 2018 lalu.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 22 April 2019  |  07:48 WIB
Rekomendasi Saham : Kalbe Farma (KLBF) Menuju Rp1.760, Bagaimana Prospeknya ke Depan?
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius (kiri) bersama Kepala Kalbe Learning Centre (KLC) Micha Catur Firmanto memberikan paparan di sela-sela acara kunjungan ke fasilitas Kalbe Learning Centre di Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta, Rabu, (6/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Saham PT Kalbe Farma Tbk. dapat tetap menjadi pilihan menarik bagi investor usai pemilu, sebab strategi bisnisnya yang defensif cukup mampu menjaga kinerja perseroan tetap positif sepanjang 2018 lalu.

Michael Tjahjadi, analis NH Korindo Sekuritas, mengatakan bahwa dengan strategi defensif emiten dengan kode saham KLBF terbukti mampu menjaga margin laba bersihnya tahun lalu, sekaligus mengimbangi tekanan depresiasi rupiah.

Pendapatan dan laba bersih KLBF pada kuartal IV/2018 tetap stabil, tumbuh masing-masing 6% dan 4,6% yoy menjadi Rp5,4 triliun dan Rp653 miliar. Kinerja segmen distribusi & logistik kembali menjadi kontributor terbesar pendapatan KLBF.

Meski demikian, kuatnya tekanan depresiasi rupiah menurunkan margin laba kotor KLBF hingga mencapai 43,8% pada kuartal IV/2018. Upaya efisiensi KLBF pada kegiatan promosi dan riset pasar mampu mengimbangi tekanan pendapatan dan menjaga kinerja margin laba bersih.

Seiring dengan stabilnya rupiah tahun ini, Michael menilai strategi defensif ini mampu memacu laju pertumbuhan kinerja margin KLBF ke depannya.

“Kami prediksikan selain dari stabilnya rupiah sepanjang 2019, tren peningkatan kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat dankeanggotaan BPJS Kesehatan juga akan memperbesar ruang pertumbuhan KLBF pada 2019,” ungkapnya melalui riset, dikutip Senin (22/4/2019).

Pada 2019, KLBF mengalokasikan belanja modal sebesar Rp1 triliun untuk pembangunan dua pabrik milik anak usaha Bintang Toedjoe dan Saka Farma. Michael menilai langkah KLBF untuk menjajaki segmen obat biologis melalui eritropoietin akan semakin memperkuat presensi pasar KLBF.

Atas pertimbangan tersebut, Michael merekomendasikan beli saham KLBF dengan target harga Rp1.760. Pekan lalu, saham KLBF ditutup di level Rp1.495, sehingga masih ada potensi kenaikan 18%.

Mimi Halimin, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, juga merekomendasikan beli dengan target harga Rp1.745. Namun, target harga ini turun dari semula Rp1.800, seiring direvisinya proyeksi keuangan KLBF oleh Mirae Asset Sekuritas.

Mimin menilai, sepanjang kuartal pertama tahun ini, belum ada peningkatan signifikan pada daya beli masyarakat. Indeks keyakinan konsumen melambat pada Januari-Februari 2019, sedangkan indeks harga konsumen mengalami deflasi pada Maret 2019.

“Kami melihat ini tanda bahwa produsen menghapi masa sulit untuk bisa meningkatkan harga jual rata-rata,” ungkapnya.

Meski menghadapi tantangan pada daya beli konsumen, tetapi Mimin percaya pada prospek jangka panjang KLBF, terutama kerena peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. KLBF memiliki diversifiaksi bisnis yang baik serta terus mengembangkan riset dan teknologi.

Risiko bagi kinerja KLBF tahun ini antara lain semakin melambatnya pertumbuhan daya beli masyarakat, implementasi kebijakan JKN yang kurang menguntungkan, dan meningkatnya volatilitas rupiah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, kinerja emiten, kalbe farma

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup