PERSPEKTIF: Saatnya Berburu Saham-Saham Murah

Penurunan harga dari saham yang mengalami kenaikan laba pada dasarnya bukanlah menjadi alasan kita untuk melakukan penjualan, tetapi malah harusnya kita membeli ketika harga saham sedang turun-turunnya.
PERSPEKTIF: Saatnya Berburu Saham-Saham Murah Frankie W Prasetio, Analis MNC Sekuritas | 15 April 2019 14:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kuartal pertama 2019 telah berakhir. Dengan demikian emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia juga telah melaporkan kinerja perusahaan se­­panjang tahun buku 2018.

Laporan keuangan tahunan selalu menjadi hal yang ditunggu oleh investor karena mencerminkan perjalanan perusahaan melewati satu siklus bisnis. Banyak perusahaan yang mendulang untung, tetapi ada juga yang malah mengalami kerugian.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sampai dengan akhir tahun lalu, kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat sebesar Rp7,023 Triliun, dengan BBCA (PT Bank Central Asia Tbk.) sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar, yaitu sebesar Rp641,16 triliun dan BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.) sebagai perusahaan yang mencatatkan keuntungan paling besar, yakni senilai Rp32 Triliun.

Sebagai investor, tentunya data laba per­­usa­­haan sangat berguna dalam pengambilan keputusan investasi dikarenakan perusahaan yang labanya bertumbuh, biasanya akan di­­ikuti juga oleh harga saham yang ikut bertumbuh.

Berita baiknya, berdasarkan data dari BEI, rata-rata laba perusahaan LQ45 bertumbuh sebesar 12% sepanjang tahun lalu. Namun, hal ini tidak disertai dengan pasar modal kita yang malah mencatatkan pelemahan sebesar 2,5%.

Laba perusahaan naik, tetapi harga saham malah turun? Ya benar, hal ini terjadi karena faktor eksternal yang terjadi pada perekonomian dunia, di antaranya kenaikan suku bunga The Federal Reserves (Bank Sentral Amerika), risiko terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta pelemahan ekonomi global.

Kenaikan suku bunga The Fed yang agresif pada 2017 dan 2018 menyebabkan arus dana asing yang dulunya masuk ke Indonesia pada masa Quantitative Easing pada 2008 menjadi berubah haluan dan keluar dengan deras.

Tercatat, dana asing keluar sebanyak Rp40 triliun pada 2017 dan Rp50 triliun pada tahun lalu dan secara kumulatif arus dana asing yang keluar mencapai lebih dari Rp90 triliun dalam 2 tahun tersebut. Padahal, dalam periode yang sama, emiten-emiten di BEI mencatatkan pertumbuhan laba.

Keluarnya dana asing menyebabkan banyak emiten yang mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Salah satu sektor yang mengalami penurunan harga yang paling signifikan adalah sektor konstruksi.

Sebagai contoh, pada 2018, saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. sempat mengalami penurunan harga hingga 55% dari Rp 3.150 menjadi Rp1.415. Padahal, emiten ini mencatatkan pertumbuhan laba yang sangat besar dalam periode 5 tahun, yakni CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 65%!

Dan, penurunan seperti ini bukan hanya dialami oleh WSKT, tetapi juga dialami oleh emiten-emiten konstruksi badan usaha milik negara (BUMN) lainnya, yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA), PT PP (Persero) Tbk. (PTPP), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI).

Tentu penurunan yang terjadi bukan tidak beralasan. Narasi yang berlaku saat terjadi penurunan adalah emiten konstruksi dirugikan oleh nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang menguat pada tahun lalu.

Ada juga yang mengatakan bahwa rasio utang yang tinggi dari emiten konstruksi BUMN menyebabkan tekanan karena Bank Indonesia juga ikut menaikkan suku bunga. Ada pula yang mengatakan cashflow (likuiditas) yang sangat ketat menjadi masalah bagi emiten konstruksi.

Banyak investor yang ikut panik dan kemudian menjual emiten tersebut di harga bawah. Namun, apa yang terjadi setelahnya? Hanya dalam kurun 3 bulan, harga saham WSKT berhasil menguat sebesar 51%!

Dari cerita di atas, boleh dikatakan bahwa penurunan harga dari saham yang mengalami kenaikan laba pada dasarnya bukanlah menjadi alasan kita untuk melakukan penjualan, tetapi malah harusnya kita membeli ketika harga saham sedang turun-turunnya.

Bayangkan betapa nikmatnya jika kita bisa membeli saham ketika sedang undervalue untuk kemudian dijual ketika sudah naik tinggi (overvalue).

Oleh karena itu, momentum keluarnya laporan keuangan tahunan 2018 seharusnya dapat dimanfaatkan oleh banyak investor untuk melakukan perburuan harta karun.

Kebetulan, jika dibandingkan dengan indeks saham utama, Indonesia termasuk yang naik tidak banyak. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun berjalan 2019, Hang Seng sudah membukukan kenaikan sebesar 18%, yang diikuti Nikkei dengan kenaikan sebesar 12%, dan juga Dow Jones sebesar 11%. IHSG? Kita hanya mencatatkan kenaikan sebesar 3,7% pada periode yang sama.

Kenapa IHSG lagging? Salah satu alasannya adalah karena investor dan utamanya fund manager (manajer investasi) sedang menunggu acara akbar pesta demokrasi yang akan berlangsung pada 17 April 2019.

Pemilihan umum merupakan saat yang ‘ngeri-ngeri sedap’ bagi para investor karena pemenang pemilihan presiden kali ini akan menentukan kebijakan yang akan menentukan arah ekonomi ke depan.

Bagi investor yang sudah membeli saham 5 tahun yang lalu tentunya masih ingat dengan istilah ‘Jokowi-Effect’ di mana pasar saham menguat, salah satunya dipimpin oleh sektor konstruksi dengan saham WSKT mencatatkan penguatan hingga ratusan persen.

Kenaikan harga saham WSKT dikarenakan program infrastruktur yang akan digalakkan oleh presiden terpilih saat itu, Joko Widodo pada saat itu. Pada saat ini, banyak investor dan fund manager yang wait and see.

Jika pemilu berlangsung aman dan presiden yang terpilih adalah yang disukai oleh market, maka akan sangat banyak dana yang akan kembali masuk ke pasar modal dan diperkirakan IHSG akan menguat signifikan.

MULAI BELI

Kalau IHSG menguat signifikan, apa saja saham yang perlu kita akumulasi untuk saat ini?

Tentunya saham yang layak dikoleksi harus memiliki fundamental yang bagus, dengan track record laba yang konsisten, dan valuasi yang undervalue. Sektor konstruksi, properti, dan lahan industri adalah beberapa sektor yang sudah undervalue dengan prospek usaha yang menarik.

Sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan laba yang sangat luar biasa pada periode 5 tahun terakhir ini, tetapi harga sahamnya malah mengalami tren turun dalam 2 tahun ini.

Fenomena laba yang bertumbuh dengan harga saham yang turun tentu perlu kita selidiki, apakah memang kedepannya laba yang akan dihasilkan akan berkurang jauh?

Karena investor selalu forward looking, yang artinya investor selalu mengantisipasi apa yang akan terjadi kedepannya, jika saat ini harga saham tersebut ‘murah’ tetapi ke depannya prospeknya tidak bagus, valuasi ‘murah’ tersebut adalah wajar dan bukan menjadi suatu kesempatan untuk akumulasi.

Namun, jika prospeknya masih tetap bagus dan penurunannya terjadi karena faktor makroekonomi yang sifatnya eksternal, maka hal ini menjadi ‘opportunity’.

Dalam hal ini, terjadi anomali di sektor konstruksi ketika laporan keuangan tahun buku 2018 dirilis dan emiten konstruksi BUMN masih mencatatkan pertumbuhan laba, bahkan daftar proyek dalam pemerintah masih sangat besar.

Jadi, menurut saya, sektor konstruksi adalah sektor yang sangat prospektif pada tahun ini dengan WIKA, WSKT, dan PTPP sebagai saham unggulan. Selain sektor konstruksi, sektor properti dan lahan industri juga merupakan sektor yang sangat menarik yang sudah undervalue pada saat ini.

Memang tidak dapat dipungkiri kalau emiten sektor properti mengalami stagnasi selama 5 tahun belakangan ini akibat meredanya boom properti sejak 2013. Hal ini dapat dilihat dari mayoritas laba emiten properti yang tidak mengalami pertumbuhan pada periode 5 tahun ini.

Namun, dengan selesainya infrastruktur pemerintah, baik berupa jalan tol maupun moda raya terpadu (MRT) akan mendongkrak harga jual dan juga menaikkan daya tarik untuk emiten properti dan lahan industri.

Artinya, prospek untuk emiten properti dan lahan industri akan semakin cerah kedepannya. Jika kita lihat secara aset, emiten properti dan lahan industri juga saat ini diperdagangkan pada discount to asset (RNAV) yang besar.

Hal ini mengindikasikan bahwa secara valuasi emiten properti dan lahan industri pada saat ini sudah diperdagangkan pada diskon yang besar (undervalue) dengan prospek bisnis yang makin menarik. Saham unggulan pada sektor properti dan lahan industri adalah BSDE, BEST, dan DMAS.

Banyak investor yang mengalami kerugian karena membeli saham tanpa mengetahui apakah saham yang dibeli itu mencatatkan laba atau bahkan mengalami kerugian, apakah utangnya banyak atau sedikit. Ini ibarat membeli ‘kucing dalam karung’.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi investor yang lebih bijak dan sambut masa rilis laporan keuangan ini dengan mengakumulasi saham yang mencatatkan keuntungan dengan valuasi yang masih murah.

Hal yang paling dibutuhkan dalam berinvestasi adalah sabar karena saham yang kita beli tentu bisa mengalami penurunan harga. Namun, jika kita mengerti apa yang kita beli, hasil yang baik akan menanti kita sebagai investor yang bijak. Selamat berinvestasi.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (15/4/2019)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, rekomendasi saham, perspektif

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top