Direkomendasikan Beli Banyak Analis, Mampukah Saham Adhi Karya (ADHI) Tembus Rp2.000?

Dengan pertumbuhan laba bersih yang mencapai dua digit pada 2018, saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. masih direkomendasikan oleh sejumlah analis. Mampukkah laju kontraktor pelat merah itu kembali lewati level Rp2.000?
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 11 April 2019  |  06:08 WIB
Direkomendasikan Beli Banyak Analis, Mampukah Saham Adhi Karya (ADHI) Tembus Rp2.000?
Foto aerial proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek, di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Rabu (2/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Dengan pertumbuhan laba bersih yang mencapai dua digit pada 2018, saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. masih direkomendasikan oleh sejumlah analis. Mampukkah laju kontraktor pelat merah itu kembali lewati level Rp2.000?

Dalam laporan keuangan 2018 yang dipublikasikan beberapa waktu lalu, Adhi Karya mengantongi pendapatan Rp15,65 triliun pada 2018. Jumlah itu naik 3,29% dari Rp15,15 triliun pada 2017.

Dari situ, emiten berkode saham ADHI itu membukukan laba bersih Rp644,15 miliar pada 2018. Pencapaian itu tumbuh 24,98% dari Rp515,41 miliar pada 2017.

Di pasar modal, Bloomberg mencatat pergerakan saham ADHI masih terbilang positif untuk periode berjalan 2019. Pasalnya, laju saham tercatat menguat atau menghasilkan return positif 6,31%

Saham ADHI ditutup stagnan pada level Rp1.685 pada penutupan perdagangan, Rabu (10/4/2019). Total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp6 triliun dengan price earning ratio (PER) 9,31 kali.

Dalam satu tahun terakhir, pergerakan sempat menyentuh level tertinggi Rp2.450 per saham dan terendah Rp1.100.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis Kresna Sekuritas Andreas Kristo Saragih menuliskan bahwa realisasi laba bersih yang dikantongi ADHI berada di bawah ekspektasi. Kondisi itu menurutnya disebabkan oleh penundaan konstruksi proyek light rail transit (LRT) Jabodebek.

Kendati demikian, dia melihat adanya sisi positif dari pencapaian tahun lalu. Hal itu sejalan dengan arus kas operasi yang berbalik positif pada akhir 2018.

Sejalan dengan penyelesaian proyek LRT Jabodebek yang akan lewat dari 2021, Andreas menurunkan target harga untuk ADHI dari Rp3.000 per saham menjadi Rp2.360 per saham. Namun, pihaknya masih merekomendasikan beli untuk saham perseroan.

Adapun, risiko dari rekomendasi itu di antaranya penundaan pembayaran proyek LRT Jabodebek dan terbatasnya ruang untuk mendapatkan pinjaman baru.

Di sisi lain, dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis PT Indo Premier Sekuritas Joey Faustian menuliskan masih mempertahankan rekomendasi hold untuk saham ADHI. Target harga saham berada di level Rp1.750.

“Kami mempertahankan rekomendasi hold untuk ADHI sejalan dengan hasil kinerja keuangan 2018,” katanya melalui riset.

Kendati demikian, dia juga menyebut potensial upside atau potensi kenaikan dari rekomendasi mungkin datang dari perolehan kontrak baru yang lebih kuat dan konstruksi LRT Jabodebek yang lebih cepat dari ekspektasi.

Berdasarkan data Bloomberg, 16 dari 20 analis yang mengulas ADHI masih merekomendasikan beli saham perseroan. Sisanya atau sebanyak 4 analis merekomendasikan hold. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
adhi karya, rekomendasi saham, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top