Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Garuda Indonesia (GIAA) Perkuat Bisnis Aviasi dan Non-Aviasi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. akan melakukan sejumlah pengembangan guna meningkatkan kinerja perseroan tahun ini.
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019)./Reuters-Willy Kurniawan
Teknisi beraktivitas di dekat pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019)./Reuters-Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. akan melakukan sejumlah pengembangan guna meningkatkan kinerja perseroan tahun ini.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan bahwa perseroan terus berfokus melakukan sejumlah pengembangan dari lini bisnis aviasi maupun non-aviasi.

Pria yang akrab disapa Ari Askhara mengatakan bahwa untuk jangka menengah, emiten berkode saham GIAA itu ingin membuat sinergi Garuda Grup dan Sriwijaya Grup menjadi kesatuan yang solid, sehingga dapat membuat efisiensi biaya perseroan.

Sementara itu, dalam jangka panjang, Ari menjelaskan perseroan ingin terus mengembangkan Garuda Indonesia sebagai pemain global yang lebih diperhitungkan.

“Selama ini memang sudah dikenal secara global, tetapi baru di skala regional. Kami sedang membuat landasan kuat untuk menopang operasi skala globalnya. Karena operasi global membutuhkan modal yang sangat besar,” ujarnya kepada Bisnis.com belum lama ini.

Lebih lanjut, GIAA akan melakukan beberapa fokus pengembangan bisnis di luar dari bisnis utama perseroan.

Ari menjelaskan perseroan mengerjakan Maintenance, Repair, dan Overhaul (MRO), catering dari Aerofood ACS, serta layanan kargo.

Selain itu, kata Ari, Garuda Indonesia dengan Gojek sedang mengembangkan suatu aplikasi dari sisi e-commerce.

Bisnis tersebut merupakan salah satu sistem logistik yang terintegrasi dengan Garuda Indonesia sebagai penyedia kargo udara.

“e-commerce ini menjadi potensi bisnis kargo udara terintegrasi, karena mayoritas arus barang e-commerce menggunakan pesawat,” pungkasnya.

Pada 2019, GIAA menargetkan laba bersih senilai Rp1 triliun. Target tersebut jauh di atas laba bersih yang ditorehkan pada 2018 yakni US$809,846 atau Rp11,7 miliar dengan kurs Rp14.481.

Di lantai bursa, secara year-to-date, saham GIAA mampu melonjak 53,02% menuju level Rp456.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Ridwan
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper