Pertempuran di Libya Menambah Risiko Pasokan, Harga Minyak Mentah Menguat

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei menguat 0,48% atau 0,3 poin ke level US$63,38 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 11.33 WIB. WTI menguat 1,6% ke level US$ 63,08 pada hari Jumat, level penutupan tertinggi sejak 5 November.
Aprianto Cahyo Nugroho | 08 April 2019 12:16 WIB
Tentara Nasional Libya di bawah pimpinan pemberontak Jendral Khalifa Haftar terlihat meninggalkan Benghazi pada hari Minggu 7 April 2019 untuk bergabung dengan pasukannya guna menggempur Tripoli. - Reuters/Esam Omran Al Fetori

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari ini, Senin (8/4/2019) menyusul meningkatnya ketegangan di Libya.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei menguat 0,48% atau 0,3 poin ke level US$63,38 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 11.33 WIB. WTI menguat 1,6% ke level US$ 63,08 pada hari Jumat, level penutupan tertinggi sejak 5 November.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak pengiriman Juni menguat 0,44% atau 0,31 poin ke level US$70,65 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Brent sebelumnya ditutup menguat 1,4% ke level US$70,34 pada hari Jumat.

Dilansir Bloomberg, pemerintah Libya yang diakui secara internasional bersumpah untuk melakukan serangan balik terhadap pasukan yang setia kepada Khalifa Haftar yang berusaha memasuki Ibu Kota Tripoli.

Sementara itu, rig pengeboran minyak AS meningkat sebanyak 15 menjadi 831, peningkatan pertama sejak Februari, menurut data dari penyedia layanan ladang minyak Baker Hughes.

Minyak mentah terus menguat di tengah tanda-tanda bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya akan memperpanjang penurunan produksi setelah Juni. Meningkatnya konflik di Libya, yang memompa 1,1 juta barel per hari bulan lalu, menambah risiko pasokan dari Iran dan Venezuela.

Di sisi permintaan, data AS pekan lalu menunjukkan peningkatan tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan, yang menjadi bukti terbaru bahwa ekonomi global mungkin tidak dalam kondisi seburuk yang ditakuti sebelumnya.

"Gangguan pasokan di Libya mengerek harga pada saat selera untuk aset berisiko meningkat karena kekhawatiran atas pelonggaran pertumbuhan global," kata Ahn Yea Ha, analis komoditas di Kiwoom Securities Co, seperti dikutip Bloomberg.

"Minyak mungkin naik terlalu cepat saat ini, tetapi sulit untuk menemukan sinyal bearish," lanjutnya.

Pertempuran di pinggiran kota Tripoli tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun ada seruan gencatan senjata oleh PBB. Meskipun pertempuran terakhir berada di selatan Tripoli, jauh dari sebagian besar pelabuhan minyak utama, risiko gangguan terhadap pasokan meningkat seiring dengan terus meningkatnya ketegangan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga minyak mentah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup