Bursa Asia Menguat di Tengah Harapan Kemajuan Pembicaraan AS-China

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (29/3/2019), di tengah harapan bahwa Amerika Serikat dan China membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan.
Aprianto Cahyo Nugroho | 29 Maret 2019 11:18 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (29/3/2019), di tengah harapan bahwa Amerika Serikat dan China membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang naik 0,5%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang terpantau menguat 0,89% dan indeks Shanghai Composite menguat lebih dari 2%.

Dilansir Reuters, sentiman pasar lebih cerah setelah pejabat AS mengatakan China telah membuat proposal dalam pembicaraan perdagangan dengan AS tentang berbagai masalah yang lebih jauh dari sebelumnya, termasuk transfer teknologi secara paksa.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pada hari Jumat bahwa ia telah melakukan "jamuan kerja produktif" pada malam sebelumnya di Beijing, saat dimulainya pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Penguatan di Wall Street juga mendukung optimisme investor. Indeks S&P 500 pada hari Kamis menguat 0,36% dan Nasdaq Composite naik 0,34%. Terlepas dari fluktuasi baru-baru ini, indeks S&P 500 telah menguat 12,3% pada kuartal pertama 2019.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik menjadi 2,403% dari level terendah 15 bulan di posisi 2,352% pada Kamis setelah penurunan yang hampir tanpa henti sejak nada dovish Fed pekan lalu memicu kekhawatiran terhadap ekonomi AS.

Kewaspadaan investor telah meningkat sejak imbal hasil pada obligasi 10 tahun turun di bawah imbal hasil obligasi bertenor tiga bulan Jumat pekan lalu. Inversi kurva imbal hasil ini secara luas dilihat sebagai indikator resesi.

Data pada hari Kamis menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS lebih lambat dari yang diperkirakan pada kuartal keempat, dengan pertumbuhan PDB direvisi turun menjadi 2,2% dari sebelumnya 2,6%.

"Ekonomi melemah dan akan melunak untuk saat ini. Tetapi apakah AS memasuki resesi masih bisa diperdebatkan," kata Mutsumi Kagawa, kepala analis global di Rakuten Securities, seperti dikutip Reuters.

"Imbal hasil obligasi yang lebih rendah akan mendukung perekonomian sementara (Presiden AS Donald) Trump kemungkinan akan mengambil langkah-langkah untuk mendukung perekonomian menjelang pemilihan presiden. Ekonomi akan meningkat akhir tahun ini," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top